![]() |
| Ayah Ghazy (April 1988) |
Rinduku,cintaku,pinterku.......
Lama kupandangi fotomu......
Kekasih, bayang-bayangmu tak mau pergi……..
Kutulis
kembali kalimat ini ketika rindu menggelayut di relung hatiku, tiga puluh tahun
silam bukan waktu yang singkat untuk menjalani kehidupan ……..seringkali kurasakan
langkah serasa tanpa arah, atau kehampaan yang tak jelas sebabnya. Terkadang aku tak
mengerti…… ,mengapa rasa hampa itu seringkali menggangguku? Astagfirullohaladziim…….,
bukankah aku sudah berikrar bahwa “ Aku ridho ya Robb atas semua taqdir yang
sudah terjadi , lahaola walaquwata illa billah.”
“Allah
sudah memberiku segalanya”……..aku adalah wanita yang paling beruntung diberi kesempatan oleh Yang Maha Penyayang
untuk hidup dan berkehidupan dalam
beriman Islam. Tak ada lagi yang harus dikeluhkan, Alhamdulillah wasyukrulillah
binikmatilah.
Sudah
lama kebiasaan menulis ini kuabaikan karena khawatir aku menulis keluh
kesah yang sangat tidak dianjurkan dalam
agama, karena berkeluh kesah artinya seperti tidak bersyukur atas segala nikmat
Nya.
Rasanya
baru kemarin aku menimang-nimang anakku, baru kemarin aku mengasuhnya dalam buai

anku, mengajaknya bermain dihalaman, bercengkrama , dan menina bobokannya ketika waktu tidur tiba. Malam ataupun siang namamu selalu dalam benakku. Aku akan selalu mengingat ucapanmu saat aku sedih : “ Mama jangan sedih aja atuh….., Ecan pengen lihat Mama hiduuuuup terus sampai Ecan tua” Kalimat itulah yang selalu terngiang-ngiang dan terbayang tingkahmu saat mengucapkannya. Usiamu belum genap delapan tahun ketika aku harus resign dari sebuah perusahaan tempatku bekerja, karena krisis moneter saat itu, juga berdampak dalam kehidupan pribadiku.

anku, mengajaknya bermain dihalaman, bercengkrama , dan menina bobokannya ketika waktu tidur tiba. Malam ataupun siang namamu selalu dalam benakku. Aku akan selalu mengingat ucapanmu saat aku sedih : “ Mama jangan sedih aja atuh….., Ecan pengen lihat Mama hiduuuuup terus sampai Ecan tua” Kalimat itulah yang selalu terngiang-ngiang dan terbayang tingkahmu saat mengucapkannya. Usiamu belum genap delapan tahun ketika aku harus resign dari sebuah perusahaan tempatku bekerja, karena krisis moneter saat itu, juga berdampak dalam kehidupan pribadiku.
Sebetulnya
aku tak ingin jadi orang yang sentimental
dan mudah merasa sedih seperti sekarang
ini. Aku tak tahu siapa yang boleh kuajak bicara tentang apa sajalah yang
membuatku merasa berarti dalam hidup ini. Aku tahu aku harus melepaskan semua
rasa kepemilikanku agar hatiku ridho dan ringan menjalaninya.
Sudah
kutuangkan dalam bentuk tulisan hingga menjadi sebuah novel “Meniti Hari
Mendaki Bukit” Aku menikmati betul menulis
novel itu, dan bersyukur bahwasanya aku diberi kesempatan oleh Nya untuk bias berkarya, walau mungkin ……….karyaku taka ada nilainya untuk orang lain. Seringkali kumerasakan kebahagiaan yang semu (?)……ah …….tapi
itu tak boleh menjadi alas an untuk tidak merasa bahagia dan bersyukur.
Mari
kita bercerita yang lain, biarlah rinduku untuk mereka ( mereka yang tidak tahu
bahwa aku sangat merindukan berada disampingnya) . Anakku, mantuku dan cucuku
yang saat ini belum bisa mengerti betapa aku menyayangi mereka. Betapa aku merindukan kebersamaan dengan
mereka, dan mereka adalah harapanku seperti layaknya seorang ibu mendambakan
kebahagiaan untuk anak-anaknya. Baiklah…….kuakhiri dulu tulisanku malam mini, kita masih harus
berjuang untuk menggapai RidhoNya, meski kita tak pernah tahu……….kapan kita
harus mengakhiri kegiatan kita karena saatnya sudah harus diakhiri, saatnya
kita ……berpulang……..tak pernah tahu siapa yang lebih dulu dipanggilNya, aku
yang sudah tua kah……atau……siapapapun yang jauh lebih muda dariku……..semoga
Allah merahmati kita semua.
Jakarta, 28 Februari 2018.


