Selasa, 27 Februari 2018

Bersyukur (1)

Ayah Ghazy  (April 1988)

Rinduku,cintaku,pinterku.......

Lama kupandangi fotomu......


Kekasih, bayang-bayangmu tak mau pergi……..

Kutulis kembali kalimat ini ketika rindu menggelayut di relung hatiku, tiga puluh tahun silam bukan waktu yang singkat untuk menjalani kehidupan ……..seringkali  kurasakan  langkah serasa tanpa arah, atau kehampaan  yang tak jelas sebabnya. Terkadang aku tak mengerti…… ,mengapa rasa hampa itu seringkali menggangguku? Astagfirullohaladziim……., bukankah aku sudah  berikrar  bahwa “ Aku ridho ya Robb atas semua taqdir yang sudah terjadi , lahaola walaquwata illa billah.”

“Allah sudah memberiku segalanya”……..aku adalah wanita yang paling beruntung  diberi kesempatan oleh Yang Maha Penyayang untuk hidup dan berkehidupan dalam  beriman Islam. Tak ada lagi yang harus dikeluhkan, Alhamdulillah wasyukrulillah binikmatilah.

Sudah lama kebiasaan menulis ini kuabaikan karena khawatir aku menulis keluh kesah  yang sangat tidak dianjurkan dalam agama, karena berkeluh kesah artinya seperti tidak bersyukur atas segala nikmat Nya.   

Rasanya baru kemarin aku menimang-nimang anakku, baru kemarin aku mengasuhnya dalam buai
Kim Ghazy AL-Rasyid

anku, mengajaknya bermain dihalaman, bercengkrama , dan menina bobokannya ketika waktu tidur tiba. Malam ataupun siang namamu selalu dalam benakku. Aku akan selalu mengingat ucapanmu saat aku sedih  : “ Mama jangan sedih aja atuh….., Ecan pengen lihat Mama hiduuuuup terus sampai Ecan tua” Kalimat itulah yang selalu terngiang-ngiang dan terbayang tingkahmu saat mengucapkannya. Usiamu belum genap delapan tahun ketika aku harus resign dari sebuah perusahaan tempatku bekerja, karena krisis moneter saat itu, juga berdampak dalam kehidupan pribadiku.  

Sebetulnya aku tak ingin jadi  orang yang sentimental dan mudah  merasa sedih seperti sekarang ini. Aku tak tahu siapa yang boleh kuajak bicara tentang apa sajalah yang membuatku merasa berarti dalam hidup ini. Aku tahu aku harus melepaskan semua rasa kepemilikanku agar hatiku ridho dan ringan menjalaninya.

Sudah kutuangkan dalam bentuk tulisan hingga menjadi sebuah novel “Meniti Hari Mendaki Bukit”  Aku menikmati betul menulis novel itu, dan bersyukur bahwasanya aku diberi kesempatan oleh Nya untuk bias  berkarya, walau mungkin ……….karyaku taka ada  nilainya untuk orang lain. Seringkali  kumerasakan kebahagiaan yang semu (?)……ah …….tapi itu tak boleh menjadi alas an untuk tidak merasa bahagia dan bersyukur.

Mari kita bercerita yang lain, biarlah rinduku untuk mereka ( mereka yang tidak tahu bahwa aku sangat merindukan berada disampingnya) . Anakku, mantuku dan cucuku yang saat ini belum bisa mengerti betapa aku menyayangi mereka.  Betapa aku merindukan kebersamaan dengan mereka, dan mereka adalah harapanku seperti layaknya seorang ibu mendambakan kebahagiaan untuk anak-anaknya. Baiklah…….kuakhiri  dulu tulisanku malam mini, kita masih harus berjuang untuk menggapai RidhoNya, meski kita tak pernah tahu……….kapan kita harus mengakhiri kegiatan kita karena saatnya sudah harus diakhiri, saatnya kita ……berpulang……..tak pernah tahu siapa yang lebih dulu dipanggilNya, aku yang sudah tua kah……atau……siapapapun yang jauh lebih muda dariku……..semoga Allah merahmati kita semua.



Jakarta, 28 Februari 2018.