Sabtu, 24 Januari 2015

l
SURAT CINTA DARI YEUNGNAM


Terimakasih ya Robb, ternyata anakku menginginkan saya menghadiri
acara wisuda S2 nya. Semoga Engkau perkenankan kami berjumpa dalam keadaan sehat, bahagia dan selalu bersyukur atas segala anugrah MU aamiin.



LATER OF INVITATION FROM KOREA
Alhamdulillah

Minggu, 18 Januari 2015

PUISI KEHIDUPAN


Puisi Kehidupan 

            Perjalanan panjang telah menghantarmu
 di tepian sukses. Tak ada perjuangan tanpa
 air mata dan kepedihan.  Perjalananmu masih
 panjang anakku, meski sebagiannya sudah kau
 lalaui bersamaku.
Perbanyaklah rasa syukurmu pada Nya, karena tanpa tertolongan Nya, kau tak akan mendapatkan apa-apa.
(QS 14 {Ibrahim} ayat 7 )
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, 
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku)
, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Dan ingatlah ketika kau masih dalam asuhanku, sering aku mengungkapkan betapa rasa sayangku padamu tak mungkin terkalahkan pada siapapun dan dari siapapun, anaku,cintaku,rinduku, pinterku, kata-kataku selalu memenuhi rasa dan fikirku, padahal......semua itu tak ada artinya apa-apa kalau kita tak mengingat ; Betapa DIA Sang Maha Memiliki Skenario yang terindah untuk kita. Katika kau kecil aku punya sebait puis untukmu :


Untuk ananda tercinta :
 
Ketika kau lahir, kau menjadi motivasi hidupku
ketika kau bayi, menjadi buah hati - belahan jiwaku
Ketika balita , kau menjadi permata hatiku, menjadi semangatku
Ketika kau remaja , menjadi rangkaian ujian hidupku,
pencahariaan atas taqdir Tuhan pada setiap desah nafasku
Setelah dewasa, tak perlu lagi kita pertanyakan, mengapa DIA memilih kita
untuk jalani taqdir seperti ini, karena taqdir adalah hak Allah yang
Allah berikan pada hamba Nya setelah kita sempurna berikhtiar, semoga
keridhoan Allah senantiasa pada setiap jalan yang kita tapaki menuju
ridho Nya, menuju sorganya kelak. Amin

Kutulis kembali :
Jakarta, 20 Januari 2015
                KECIL TAPI HEBAT



 Mengenangmu,  mahluk kecil tak berdaya diletakkan disampingku ketika aku sendiri terbaring lemaah, adalah sebuah rasa syukur atas
anugrah yang DIA beri.
 Diatas meja oprasi aku masih sempat berdoa diantara mimpi dan jaga : "Ya Allah beri aku kesempatan untuk hidup bersama anakku ini"
 Dalam ketakberdayaanku masih kudengar perawat itu barkata :
" Cepat Dok, pasiennya sudah gelisah" 
" Coba berhitung Bu!"
- satu....dua....tiga........- suaraku semakin melemah dan....akhirnya....aku cuma merasa tertidur dengan nyenyak.
Entah berapa lama....aku tertidur di meja operasi, ketika terbangun sudah berada di tempat lain yang sejuk, bersih dan rapi.
Seorang berpakain jas putih dan mengalungkan staoskop mendekatiku, dengan lembut dan tersenyum dia menyapaku : 
" Bayinya  laki-laki Bu, cakep" .Kudengar suster membacakan kondisi bayiku pada dokter itu, aku menangkap sedikit pembicaraan mereka : Berat 1,9 kg dan panjang 44 cm. Bayinya kecil dok! tapi sehat!....entaah apa lagi yang mereka bicarakan, dan dokter itu masih ada disamping tempat tidurku sambil tersenyum dan berucap : "Selamat ya Bu...., bayi ibu sehat.....kecil ...tapi hebat" . Terngiang-ngiang ucapan dokter itu : ".....kecil....tapi hebat....".......engkau lahir dengan tindakan caesar...., mencemaskan......tapi ...ternyata kau sehat dan membuat kami semua harus bersyukur atas kelahiranmu.
 " Anakku....kelahiranmu adalah HADIAH ULANG TAHUN di hari kelahiranku.....ajaib memang......, sungguh inilah hadiah yang terindah dihari kelahiranku yang ke 30. Alhamdulilah, Allahu Akbar! Dua puluh lima tahun kemudian di tanggal yang sama engkau memberik hadiah lagi.....ijazah kesarjanaanmu...., kau berikan itu padaku sambil mengatakan : " Selamat Ulang Tahun Ma...., ini hadiah buat Mama"....

(Terimakasih anakku.....atas pemberian hadiah itu untukku)....
Sujud syukur pada Mu Ya Robb, rasanya tak akan bisa mengimbangi nikmat Mu padaku.... jadikan kami orang2 yang pandai bersyukur atas segala nikmat Mu, aamiin...
 Kutulis kembali saat kau memberiku lagi hadiah yang indah.....kelulusan Pascasarjanamu  dan kau memberiku seorang mantu yang solehah,  

Alhamdulillahirobbilalamin, Engkau telah memberiku segalanya,
jadikan kami orang yang bermanfaat untuk sesama aamiin.

Jakarta 21 Januari 2015

Catatan : Tgl 21 adalah tanggal yang bermakna karena hadiah itu selalu kebetulan kuterima pada tgl 21.








Cerpen 




Kubaca pesan pendek dari anakku.
 “ Ma, maafkan Danang . . . , sampai habis tak bersisa . . . .” tulisnya.
Kutahu yang ia maksud , sampai tuntas tak tersisa yang harus kumafaakan. Aku tersenyum. Jika dekat, anak itu memang selalu membuatku gusar.Ada saja hal yang kami tidak sependapat.Entah itu masalah sepele,ataupun masalah serius.Tapi bagaimanapun aku sudah banyak memakluminya,dan tentu kumaafkan. Saat terakhir ia pulang,menuntutku untuk lebih sabar lagi.Ia tak mau ngomong apapun.Wajahnya ditekuk tak sedikitpun nampak  garis senyum. Itu bukan sekedar merajuk. Aku rasa ia sedang sangat sedih.
“ Kenapa ? “ sapaku baik baik, ia menggelengkan kepala.
Kalau sudah macet begitu biasanya kubiarkan dulu, tapi pikiranku bekerja keras untuk mencari jawabannya.
Aku sering berdiskusi dengan teman jika ada masalah yang sama, masalah single-parent yang membesarkan anak laki-lakinya , seorangdiri. Padahal demi anak itulah kupilih bertahan sendiri sekian lama.  Ah , sebetulnya jujur saja aku bukan bertahan, namun kesempatan untuk mengganti kehadiran ayah Danang tak sengaja kuabaikan. Aku terlalu takut untuk memulai satu hubungan,karena selalu saja mengingatkanku pada kegagalan yang kualami. Kepercayaanku kepada ayah Danang, dulu ternodai.
Itu duapuluh tahun yang lalu,saat biduk rumahtanggaku baru saja dimulai.
Sekarang puteraku sudah besar. Sempat terbersit dalam fikiranku, sifat anakku tak boleh terlalu dominan menurun dari sang ayah. Itu suatu kekhawatiran. Namun aku sadar bahwa sifat genetic seseorang sedikit banyak akan nampak juga kesamaan dengan orang tuanya.Baik fisik ataupun non fisik, baik atau buruk , sebetulnya sudah merupakan suatu anugrah . Yang harus kita terima dan disyukuri. Karena tentu, anugrah itu karunia Allah.Sedangkan sifatku yang menurun pada Danang juga kekerasan hatinya, kemauan yang pantang surut jika ada yang ingin dicapainya. Namun semua itu bagai bias yang sering memantul dalam keadaan yang aku tidak siap , hingga kurang menyenangkan. Itulah mungkin yang akan menjadi ujian bagiku.Sama sama keras hati,namun bersyukur bahwa kecerdasanpun diberikan Allah padanya sama banyak,tinggal mengasahnya agar bertambah. Yang peka adalah emosinya.Ini juga rupanya kuturunkan padanya. Anakku adalah cermin diriku. Kadang aku tidak siap menghadapi tuntutannya , yang menginginkan aku  menjadi ibu yang sempurna. Ia tak mau aku menjadi ibu yang hanya memperhatikan karierku. Ia ingin aku menjadi ibu yang selalu mengerti keinginan keinginan kecilnya.Tapi aku seringkali merasa takut, ia tidak akan dapat mandiri jika selalu kuturuti. Aku sempat kehilangan masa ,dimana Danang terpaksa kutitipkan kepada kakakku, budenya.  Masa masa sulit dimana aku harus menjadi diriku, menjadi ibu sekaligus ayahnya.Masa pencarian yang panjang. Masa perjuanganku untuk menerima kesendirian dengan tugas dua peran. Mencari jatidiri. Tentu saja.Aku merasa kehilangan jatidri setelah mengalami kegagalan.Sering muncul pertanyaan dalam hati,siapa aku dan harus bagaimana aku agar keberadaanku bermanfaat untuk hidupku , dan anakku ? Dalam keluargaku aku sudah terbiasa mandiri , karena terlahir di keluarga besar yang sederhan dan memiliki banyak saudara.

Tanpa punya keinginan mempertanyakan kenapa,  aku sadar, sebagai anak tengah dari tujuh bersaudara  aku tak mungkin mengharapkan segalasesuatu yang special untuk diriku seorang.Itulah bekal yang kubawa ketika Allah memberiku seseorang, untuk menjadi suamiku.
Ketika itu , aku berfikiran, inilah pengabdian untuk seumur hidup.
Aku ingin memiliki imam yang membawaku jauh kedepan yang lebih baik didunia maupun untuk bekal pulang nanti. Namun, ternyata Allah memberiku kesempatan untuk berjuang terus. Karena hanya sekejap saja rumahtanggaku itu bisa bertahan. Ketika suamiku tidak dapat menerima keadaan ekonomi yang sulit, kemudian berpaling kepada keinginannya untuk bebas tanpa punya beban tanggung jawab, apakah aku masih bisa mengharapkan dia untuk menjadi penanggungjawab ?
Saat seperti itulah kemudian aku tergerak untuk bangkit.
Alhamdulillah Aku diberi jalan oleh Allah untuk berkarier , dan suamiku saat itu kehilangan pekerjaan karena memilih milih kiranya sesuai keinginan,bukan kebutuhan.Rupanya karena ia mempertahankan gengsi untuk dirinya, ia tidak bisa menerima keadaan itu.Padahal aku dan keluargaku menerima saja keadaan sementara itu, tidak menjadikan masalah walau harus dijalani.Apalagi itu saat masih baru saja menikah,dan hanya dalam waktu cuti dua minggu, aku harus  berangkat kembali bekerja yang kebetulan ditempat kan jauh disebuah kota besar diluar pulau Jawa.Ia tak keberatan.Tetapi karena keterbatasan persiapan kami,terpaksa ia melepas keberangkatanku sendiri walaupun ia tak sedang terikat bekerja,berarti waktu memungkinkan untuk itu.

Ketika aku tahu bahwa aku hamil , aku betul betul seorang diri. Itu kujalani dengan harapan, suatu saat suamiku akan menyusul dan mencari penghidupan di kota yang sama.Aku berbesar hati untuk itu, karena suamiku sebetulnya seorang sarjana, yang artinya ia sudah punya modal akademis untuk berusaha mencari dan merintis jalan rezeki. Jika ada kemauan pasti ada jalan. Itu motto ku .Pepatah kuno itulah yang selalu menjadi semangat bagiku.Namun ternyata tidak menjadi pendorong semangat bagi suamiku.
Beberapa bulan kujalani jauh dari siapapun yang menjadi pemacu semangatku,harapan dan kebahagiaanku tertumpu pada calon anakku yang tumbuh dalam rahimku dengan kondisi baik,sehat dan tidak rewel.Hanya saja ketika usia kandunganku tujuh bulan , dokter mengatakan bahwa bayiku sungsang. Masya Allah,hatiku sempat panik.Berarti jika melahirkan aku harus siap menjalani Caesar. Kepanikanku bertambah ketika aku menyadari, bahwa suamiku tidak menampakkan perhatian dan komunikasi yang lebih baik.Namun aku memakluminya,mungkin karena ia sedang mencari pekerjaan yang diingikannya di ibukota. Akhirnya aku tidak terlalu berharap banyak akan kehadirannya segera disampingku. Tiba saat  akan melahirkan ,aku pulang. Perusahaan tempatku bekerja mengijinkanku mengambil cuti sampai masa cuti melahirkan selesai. Namun aku berserah diri kepada Allah,dan berbaik sangka kepadaNya untuk  mengundukan diri saja dari pekerjaan yang jauh dari keluarga itu. Aku yakin,setelah lahir si Kecil, Allah akan memberiku lagi pekerjaan.Allah pasti akan memberi kami rezeki.Jadi aku pulang dengan berbesar hati.
Suamiku tak segera nampak ketika keluarga menjemputku di bandara. Hanya kakak dam ibuku yang dari jauh sudah kelihatan sangat antusias. Terutama kakak perempuanku, ia dengan suaminya menjemputku,ibu dan ayahku segera memelukku ketika aku keluar dari ruang kedatangan dengan senang hati. Dengan perut besar dan mata memandang sekeliling , aku tidak juga segera menampak sosok samiku. Apakah kepulanganku tidak membuat suamiku bahagia ? Aku tidak mau berfikiran jelek.Barulah,setelah beberapa lama kemudian ia tiba tiba menghampiri tanpa aku lihat kehadiran sebelumnya.
Dingin. Aku sedih.Tapi aku berfikir positip,mungkin ia akan meberiku sebuah kejutan.Namun ternyata kejutan yang kuharapkan itu sampai kapanpun tak pernah aku dapatkan.
Benar kata dokter, bayiku memang sungsang.Danang dilahirkan dengan operasi Caesar.Kurasa Ayahnya  kian  terasa semakin jauh,dan seolah  aku tak mengenali hatinya. Itulah saat saat yang terasa menyakitkanku.
Beberapa bulan kemudian aku dan ibu mertua mengetahui bahwa suamiku sudah lama menjalin kedekatan dengan wanita lain.
Di pengadilan agama ketika aku mengajukan gugatan cerai setelah setahun kemudian tak ada perbaikan,ia hanya menjawab pertanyaan hakim dengan alasan , ingin berpisah karena belum sanggup berumahtangganya. Aneh, pikirku.Selama ini bukankah ia yang mengajakku segera menikah ? padahal aku hanya sedang cuti lebaran saja saat pulang waktu dilamarnya.Dan aku terpaksa meminta perpanjangan cuti ketika itu. Tapi aku tak bisa memaksakan ketidaksanggupannya. Walaupun aku masih menyayangi dan menghormatinya,serta akupun belum pernah merasakan seperti apa yang namanya benar benar berkumpul dengan suami dalam keseharian berumahtangga,namun akupun punya rasa enggan untuk meneruskan.Dan aku harus berusaha mencari pekerjaan kembali untuk menghidupi aku dan anakku. Maka,kutitipkan Danang pada kakakku.Aku mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan dengan posisi sementara,yaitu menggantikan seorang karyawatinya yang mau menjalani cuti melahirkan.Berarti aku mendapatkan posisi itu hanya untuk tiga bulan saja.Selebihnya,kupasrahkan lagi kepada Sang Pengatur kehidupan.
Dengan sangat senang hati kakakku memelihara dan membesarkan Danang, penuh kasihsayang.
Mereka mengurus Danang sampai dewasa.Cinta bude-pakdenya begitu besar,bahkan sampai anakku kuliah kakakku memberikan bantuan yang luar biasa, tidak hanya support moral, materipun tidak sedikit selalu diberikannya.Aku sangat berhutang budi.Sementara ayahnya sendiri tak pernah sedikitpun ada komunikasi.
Memang ketika ibu dan bapak mertua masih ada,keluarga suami ada juga memberikan perhatian untuk Danang.Begitupun adik-adik ayah Danang.Akupun tidak menutup komunikasi dengan mereka,dan kuupayakan pengenalan mereka kepada anakku sejak saat ia masih kecil.Aku selalu berharap semoga komunikasi anakku dngan mereka terus berlanjut sebagai silaturahim.Walau aku tahu,anakku tidak pernah menceriterakan apapun tentang komunikasinya dengan mereka.
Danang seperti menyimpan keengganan setiap aku ingin tahu tentag hal itu.Aku mengerti,anakku memiliki sifat yang sama dengan ayahnya,sehingga aku sering kesulitan untuk mengerti hatinya, ia tertutup,dan merasa gengsi untuk mengutarakan apapun kepadaku.Itulah sifatnya yang menyulitkanku dan dirinya sendiri,sehingga aku tidak tahu harus berbuat apa.Itulah mungkin sebabnya,mengapa kami seringkali bertengkar dan berbeda pendapat.
Kadang aku merasa tidak berhasil menyelaraskan hati dengan anakku.Kadang aku merasa putus asa untuk menjadi ibu yang terbaik buat dia.Namun aku bersyukur, kakakku telah mendidiknya menjadi anak yang shaleh.Taat menjalankan agama sejak kecil, dibesarkan kakakku, berdua dengan puteranya sendiri yang berjarak usia dua tahun.
Aku kangen kepada anakku , aku kangen kepada pangeran kecilku. Aku kangen pada kebahagiaanku yang terenggut perjalanan hidup yang sudah  kulalui.Tapi itu karena kehendak Allah.
Sering aku bercerita pada Danang , bahwa ayahnya seorang yang baik.
Aku tak pernah ingin mengatakan pada anakku bahwa ayahnya,menurut ibu mertuaku,seorang yang egois dan memiliki watak yang keras.Aku mengerti latar belakang keluarganya. Ayah Danang tumbuh sebagai seorang anak mama yang selalu dilindungi dan dibela apapun tindakannya.
Semula,dulu, aku berharap dapat sedikit berperan untuk mendukungnya menjadi seorang suami dewasa dan berani menempuh kehidupan.Namun ternyata sangat tidak mudah aku menyiapkan diri untuk itu.
Aku selalu harus mengerti, dan belajar mengalah.
Mungkin sikap mengalahku ini tidak cukup untuk menjemput kebahagiaan berumahtangga yang belum sempat kuraih.Dan aku harus tetap mandiri jika ingin survive,berjuang untuk memperoleh kebahagiaan.
Untuk itulah anakku tumbuh tanpa selalu dengan sentuhan tanganku.
Aku akhirnya bisa faham  mengapa anakku sering protes seolah selalu tidak puas terhadap perhatianku.
Di e-mail untuk dia aku membalas pesan singkat permohonan maafnya,yang kuterima menjelang memasuki bulan puasa.Hari inipun aku ingin mengirimnya lagi, mudah mudahan segera ia baca.
“Danang sayang, engkau tidak tahu betapa mama mencintaimu.Betapa ingin selalu mengurus dan memberikan yang terbaik buatmu nak. Maka mama berupaya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanmu. Alhamdulillah,kemudahan selalu diberikan oleh Allah untuk menjemput rizkimu.Maka ketika mama sadar bahwa engkau sedang bersedih,mama segera berfikir,adakah yang harus mama lakukan lagi untukmu nak ?
Danang, dulu ketika engkau kecil,jika mama kangen,suka menulis untukmu.Bunyinya begini : Buat Danang mungil buah hatiku, harapanku , rinduku. Mama kangen. Tapi mama harus bekerja dan jarang berjumpa.Mama melihat kasih sayang yang luarbiasa dari bude,pakde dan abangmu.Mama bahagia.Anakku harus sehat , harus kuat.Sekuat batu karang yang tegar walau  diterjang ombak.Cepatlah besar nak , cepat lah mencari ridho Allah selalu.Suatu saat kau akan mengerti,betapa sebetulnya ayah ‘memerlukan’ dan bangga padamu.Betapa mama lebih bangga dan menantimu, selalu berdo’a agar Danang menjadi orang hebat.Danang yang dapat menghibur mama , menjadi harapan mama. Mama tahu , engkau kecil , tapi hebat !”
Begitulah email yang kukirim.Mudah mudahan dapat sedikit melerai kesedihannya.Aku tahu ketika ia datang dan tak berbicara apa-apa,ia sedang jenuh dengan masalah kuliahnya.Ia sangat menginginkan kemudahan kemudahan fasilitas yang mendukung semua kegiatannya.Terutama masalah keuangan.Ia menginginkan aku memfasilitasinya lebih banyak lagi. Ia ingin seperti orang lain,yang mendapatkan dukungan lengkap kedua orang tuanya, moril dan materil.
Emosinya sedang tersulut oleh kesulitan kesulitan kecil yang harus dilaluinya,dan ia sedang merasa lelah mengatasi semua itu.Sampai Ia ingin berhenti kuliah hanya karena merasa lelah,dan ingin mencari kerja untuk memenuhi keinginan keinginan finansialnya.
Karena itu aku sungguh tidak setuju,jika hal itu harus dilakukannya. Ia harus tetap bisa menyelesaikan kuliahnya.Dan ia harus berani berjuang untuk mewujudkan cita citanya.Ia harus bisa mengatasi masalah kejenuhannya.Kuakui,uang yang kusisihkan dari gajiku setiap bulan tidak akan dapat mencukupi kebutuhannya secara nominal.Padahal itu sudah setengah dari gajiku,artinya pendapatanku selalu dibagi dua.Kucukupkan sendiri kebutuhanku dengan berserahdiri kepada Yang Maha Pemberi rezeki dan berikhtiar mengatur,dengan manajemen hati yang kona’ah.Alhamdulillah.Ada saja rejeki tambahan yang diberikan Allah dengan tidak disangka sangka.Begitupun sebetulnya yang dilakukan Danang. Sambil melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiswa,ia juga mendapat uang saku tambahan dari siswa siswa yang diberi bimbingan belajar secara privat. Aku sangat bangga dengan kemampuan dia.Dan iapun begitu gigih dan bersemangat melakukannya.
Tentu , ada saatnya ia merasa jenuh dan letih.Walaupun ia juga selalu mendapat dukungan besar dari paman dan bibinya dimana ia tinggal.
Peran adikku sekeluarga  tidak kecil.Disitu anakku tinggal.Adikku sekeluarga memberikan yang terbaik,sama seperti memperlakukan puterinya. Sebetulnya ia mendapatkan semua fasilitas keluarga.
Namun begitulah , disaat saat tertentu ia mencari figure yang dapat memberinya motivasi dan semangat,disaat itulah ia mungkin merasa sangat lelah.Dan menumpu-kan keletihannya itu seolah kepada keadaan finansial yang tidak mendukungnya.Padahal sebetulnya mungkin,kepada masa lalu dan ketidak utuhan sebuah keluarga dimana seharusnya ia tumbuh dan berada. Latar belakang yang secara tidak sadar senantiasa membayangi dan membias dalam dirinya.
Tentu saja aku harus dapat mengingatkan anakku,bahwa itu semua bukan kehendak kita.Dan kita harus dapat selalu menerimanya. Menerima apapun yang diberikan Allah,dan meyakini bahwa itulah yang terbaik untuk kita.Rasa pasrah bukan berarti menyerah tanpa ikhtiar.
Aku mengerti ,anakku telah melakukan yang terbaik untuk dirinya.Dan aku percaya , satu saat rasa letih itu akan surut juga dari fikirannya.
Ia hanya sedang membutuhkan sentuhan yang dapat membangkitkan harapannya.
“Teruskanlah kuliah Nak ! Cape fisik dan fikiranmu sudah barang tentu. Tapi kita tak boleh putus asa. Mungkin suasana lain yang kau inginkan adalah lebih banyak berinteraksi dengan teman kuliahmu,bisa saja tinggal dengan mereka, kost bersama mereka.Walaupun konsekwensinya tentu masalah biaya. Karena selama ini fasilitas harian itu kau peroleh dari keluarga yang menaungimu.Apakah tidak kau syukuri kemudahan itu ? Kesulitan kita mungkin tidak seberapa dibandingkan orang lain yang lebih susah dan tidak mendapatkan kesempatan yang mudah untuk mencari ilmu di Perguruan Tinggi Negeri yang kau sudah berhasil menembusnya.Alhamdulillah.
Maka kau jangan bersedih ,seperti kata pesan dari judul buku Laa Tahzan! berbahagia dan bersemangatlah.Mama selalu berdoa’ untuk keberhasilanmu” begitulah akhir email ku.
Bias kehidupan yang harus kulalui , bukan sekedar fatamorgana yang hanya dapat dilihat mata. Akan tetapi harus menjadi semangat hidupku
Kutatap harapan kedepan,disana ada Danang anakku, dengan warna kehidupan dan karakter tegar, sebagai bias dari masa laluku. ****

Bandung , 10 romadhon 1430 h
garnasih@trisakti.ac.id