Puisi Kehidupan
Perjalanan panjang telah menghantarmu
di tepian sukses. Tak ada perjuangan tanpa
air mata dan kepedihan. Perjalananmu masih
panjang anakku, meski sebagiannya sudah kau
lalaui bersamaku.
Perbanyaklah rasa syukurmu pada Nya, karena tanpa tertolongan Nya, kau tak akan mendapatkan apa-apa.
(QS 14 {Ibrahim} ayat 7 )
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي
لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah
juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti
Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku)
,
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Dan ingatlah ketika kau masih dalam asuhanku, sering aku mengungkapkan betapa rasa sayangku padamu tak mungkin terkalahkan pada siapapun dan dari siapapun, anaku,cintaku,rinduku, pinterku, kata-kataku selalu memenuhi rasa dan fikirku, padahal......semua itu tak ada artinya apa-apa kalau kita tak mengingat ; Betapa DIA Sang Maha Memiliki Skenario yang terindah untuk kita. Katika kau kecil aku punya sebait puis untukmu :
Untuk ananda tercinta :
Ketika kau lahir, kau menjadi motivasi hidupku
ketika kau bayi, menjadi buah hati - belahan
jiwaku
Ketika balita , kau menjadi permata hatiku,
menjadi semangatku
Ketika kau remaja , menjadi rangkaian ujian
hidupku,
pencahariaan atas taqdir Tuhan pada setiap desah
nafasku
Setelah dewasa, tak perlu lagi kita pertanyakan,
mengapa DIA memilih kita
untuk jalani taqdir seperti ini, karena taqdir
adalah hak Allah yang
Allah berikan pada hamba Nya setelah kita
sempurna berikhtiar, semoga
keridhoan Allah senantiasa pada setiap jalan yang
kita tapaki menuju
ridho Nya, menuju sorganya kelak. Amin
Kutulis kembali :
Jakarta, 20 Januari 2015
Mengenangmu, mahluk kecil tak berdaya diletakkan disampingku ketika aku sendiri terbaring lemaah, adalah sebuah rasa syukur atas
anugrah yang DIA beri.
Diatas meja oprasi aku masih sempat berdoa diantara mimpi dan jaga : "Ya Allah beri aku kesempatan untuk hidup bersama anakku ini"
Dalam ketakberdayaanku masih kudengar perawat itu barkata :
" Cepat Dok, pasiennya sudah gelisah"
" Coba berhitung Bu!"
- satu....dua....tiga........- suaraku semakin melemah dan....akhirnya....aku cuma merasa tertidur dengan nyenyak.
Entah berapa lama....aku tertidur di meja operasi, ketika terbangun sudah berada di tempat lain yang sejuk, bersih dan rapi.
Seorang berpakain jas putih dan mengalungkan staoskop mendekatiku, dengan lembut dan tersenyum dia menyapaku :
" Bayinya laki-laki Bu, cakep" .Kudengar suster membacakan kondisi bayiku pada dokter itu, aku menangkap sedikit pembicaraan mereka : Berat 1,9 kg dan panjang 44 cm. Bayinya kecil dok! tapi sehat!....entaah apa lagi yang mereka bicarakan, dan dokter itu masih ada disamping tempat tidurku sambil tersenyum dan berucap : "Selamat ya Bu...., bayi ibu sehat.....kecil ...tapi hebat" . Terngiang-ngiang ucapan dokter itu : ".....kecil....tapi hebat....".......engkau lahir dengan tindakan caesar...., mencemaskan......tapi ...ternyata kau sehat dan membuat kami semua harus bersyukur atas kelahiranmu.
" Anakku....kelahiranmu adalah HADIAH ULANG TAHUN di hari kelahiranku.....ajaib memang......, sungguh inilah hadiah yang terindah dihari kelahiranku yang ke 30. Alhamdulilah, Allahu Akbar! Dua puluh lima tahun kemudian di tanggal yang sama engkau memberik hadiah lagi.....ijazah kesarjanaanmu...., kau berikan itu padaku sambil mengatakan : " Selamat Ulang Tahun Ma...., ini hadiah buat Mama"....
(Terimakasih anakku.....atas pemberian hadiah itu untukku)....
Sujud syukur pada Mu Ya Robb, rasanya tak akan bisa mengimbangi nikmat Mu padaku.... jadikan kami orang2 yang pandai bersyukur atas segala nikmat Mu, aamiin...
Kutulis kembali saat kau memberiku lagi hadiah yang indah.....kelulusan Pascasarjanamu dan kau memberiku seorang mantu yang solehah,
Alhamdulillahirobbilalamin, Engkau telah memberiku segalanya,
jadikan kami orang yang bermanfaat untuk sesama aamiin.
Jakarta 21 Januari 2015
Catatan : Tgl 21 adalah tanggal yang bermakna karena hadiah itu selalu kebetulan kuterima pada tgl 21.
Aku sering berdiskusi dengan teman jika ada
masalah yang sama, masalah single-parent yang membesarkan anak laki-lakinya ,
seorangdiri. Padahal demi anak itulah kupilih bertahan sendiri sekian lama. Ah , sebetulnya jujur saja aku bukan bertahan,
namun kesempatan untuk mengganti kehadiran ayah Danang tak sengaja kuabaikan.
Aku terlalu takut untuk memulai satu hubungan,karena selalu saja mengingatkanku
pada kegagalan yang kualami. Kepercayaanku kepada ayah Danang, dulu ternodai.