Sabtu, 08 Agustus 2020

Mengenang Teh Yulis Afifa yang meninggal pada tanggal 4 Agustus 2020,
Allahumagfirlaha, warhamha,wafuanha, Semoga Allah merahmati .

Sahabatku , teman seperjuangan ku, kini kami hanya bisa mengenangmu dalam kebaikanmua, dalam candariamu, dalam kenangan yang begitu indah dalam kebersamaan alumni SAKMA Angkatan 23 Keluarga Analis Angkatan 23,





 KUANTAR KAU ke  GERBANG ........
Kasih Ibu tiada bertepi
                  Kasih anak sepanjang hayat......,
 semoga tidak seperti itu
Kasih Ibu tiada bertepi
Kasih anak tiada akhir....,

 berujung di Ridho Ilahi.....
Ridho Allah adalah Ridhoku jua...
Ya Robb, jadikan ia : hambaMu

 yang pandai bersyukur
Jadikan ia sarana 

bersyukurku padaMu
Ya Robb....ridhoi kami

 dalam menggapai RidhoMu.
                                      Aamiin, YRA.

Do’a Buat Malaikat Kecilku

..sejenak .......bersamamu.......membahagiakan....
..sejanak........disampingmu......menyenangkan....
Malaikat kecilku........
kini kau sudah dewasa......
kepak sayapmu   membahana......
Aku.........termangu........
dalam ke tak mengertian......
aku ingin  melihat terkembangnya sayapmu....
terbang ke awan meraih mimpi.....
menjadi nyata.....
malaikat kecilku......
kini kau sudah dewasa...
kepak sayapmu  semakin perkasa.....
kelak.......kembali ........bersama .....mimpiku...
di hari tua ......aku tak ingin  sendiri......
Terimakasih,
kau telah memberi kenangan indah dalam hidupku
Bersama Cinta yang Allah beri...........
Kita .......tak mungkin ......saling berseteru.....
buanglah  kecewamu di seberang sana……
di samudra lepas  yang  tak terjangkau lagi
tanda ikhlas menerima taqdir.........
..tersenyumlah........karena kini....
mimpimu ...sudah dalam genggaman.
....nyata. Insya Allah….., Bersama do"a dan airmataku..........

Jakarta, 25 Maret 2015


Jumat, 01 Mei 2020

GERBONG CAHAYA


Sdri Nisha Shah dari Malaysia menulis di sini , dan saya beri Judul :
29 April 2020.
"Cahaya  di atas Samudera Kehidupan" 

Bila ditanya pada baginda Ibrahim as, “Bilakah saat paling bahagia buat mu?”
“Saat paling bahagia buat ku adalah sewaktu aku bakal dilemparkan ke dalam unggun api yang menjulang tingginya!”

Mengagumkan.. Mengharukan.. Juga membingungkan. Bagaimana saat bakal dilempar ke dalam api boleh menjadi waktu yang paling membahagiakan?
“Kerana pada saat tersebutlah aku hanya boleh bergantung harap pada Yang Maha Kuasa. Saat aku melihat api yang menjulang, keimanan aku bertambah teguh. Kerana aku tahu hanya Allah Yang Maha Agung dapat membantuku!” Masya Allah.. itu lah ketabahan seorang Rasul Ulul Azmi dalam menyampaikan risalah rahmat Tuhannya.
MasyaAllah.. itu lah ketabahan seorang Rasul Ulul Azmi dalam menyampaikan risalah rahmat Tuhannya. Bagaimana pula dengan kita?
Iya.. tidak layak untuk kita bandingkan diri dengan seorang kekasih Allah. Namun, bukankah kita perlu mencontohi keperibadian baginda rasul walaupun hanya sekadar secubit pengalaman?  Maha Suci Allah yang Menyempurnakan Nikmat pada Segala sesuatu


Pada waktu tahajud ini, ingin saya berkongsi kisah saya sendiri tentang bagaimana sikap kebergantungan pada Allah itu telah meningkat tahap energy saya daripada ‘Pride’ menjadi “Enlightenment”. Dan itu juga detik pertemuan bersama Ibu Ida sayang yang dihantar oleh Yang Maha Mengatur sebagai alatNya yang terbaik.
Bagi seorang wanita yang telah berusia 31 tahun dan belum bernikah itu bukanlah satu keadaan yang nyaman kepada keluarganya. Walaupun wanita itu punya karier, jabatan, penghormatan namun ianya seakan tidak bermakna jika tidak dilengkapi dengan status seorang ‘isteri’.
Dan itu adalah saya, yang sering ditanya dengan bermacam soalan yang sama saban hari, “Bila mau nikah?” oleh saudara mara, teman-teman yang sengaja mahu menyakiti.

Jika punya skema jawaban, pasti lebih mudah. Namun ia bukanlah sekadar memilih pilihan jawapan A,B,C, atau D, atau lebih kepada mengarang jawaban essay yang boleh diolah mengikut pemahaman sendiri. Banyak hati yang perlu dijaga dan disantuni.

“Bukankah kamu sudah punya pacar? Bila mau nikahnya?”
Merah telinga mendengar bicara2 halus menajam seperti bilah jarum yang tersusuk di jari saat leka mengait baju.
Benar pada waktu itu saya emang punya pacar yang telah berkasihan selama 15 tahun. Namun setiap kali diajak berbincang perihal masa depan, pasti dia akan memberikan sejuta alasan untuk mengelak.
Ya 15 tahun, bukan satu masa yang singkat untuk bertahan. Dan tahap kesabaranku telah sampai di puncaknya. Cukup sampai sini! Saya telah lelah menunggu tanpa pasti.

Demi cinta pada sang ibu yang ingin sekali melihat putri tunggalnya ini bersanding di pelaminan, lantas saya cuba mencari seseorang yang bisa mendampingi diri ini. Dan pada ketika itu juga, saya sedang berhubungan rapat dengan seorang sahabat. Seakannya dia mempunyai naluri yang sama denganku – untuk berkasih sayang. Namun bila dilihat jauh, sepertinya acara menarik dan melepaskan tali, tidak serius pula

Lantas saya cuba beranikan diri untuk memulai langkah. ingin berterus terang dengannya. Walau di hati seakan tumbuh benih kasih sayang, namun lidah masih  belum cukup tegas untuk mengungkap bicara meluahkan rasa.
Kusut.. takut.. Serba tak kena semuanya. Dan pada waktu ketika itu, saya berdoa pada Allah agar dihantar bantuan.
Entah bagaimana hati saya sangat kuat untuk berjumpa dengan Ibu Ida yang ketika sedang berada di Kuala Lumpur. Even a coach need a coach! Itu lah keadaan saya ketika itu. Petangnya setelah pulang dari kampus, saya terus ke tempat ibu ida menginap. “Ibu, coach sha. Sha mau tahu kenapa sha kena kahwin?” Itu ayat yang keluar dari bibir ini. Entah kenapa saya boleh lontar soalan yang kelihatan sangat tidak matang. Tidak sedar jam tangan menunjukkan hampir tengah malam. Dan saya perlu bergegas pulang ke rumah yang perjalanannya hampir dua jam dari hotel tempat Ibu Ida menginap.

Kerudung saya telah basah dek air mata yang tak henti-henti saat ditemukan inner drive, Mengapa Sha Perlu Kahwin.   Ya Qawiy… itu inner drive Asmaul Husna yang Allah titipkan kepada saya.

Perkahwinan akan menghadirkan Kekuatan untuk saya terus berjuang dalam hidup agar tidak sendiri di alam dunia ini.

# kekuatan untuk memberi tanpa meminta balasan kerana dalam pernikahan itu bukanlah suatu medium perdagangan yang boleh diukur untung ruginya.
# kekuatan untuk mencintai tanpa mengharapkan balasan kerana pernikahan bukanlah sekadar kasih sayang bahkan satu amanah dan tanggung jawab yang bakal Allah pertanggungjawabkan di mahsyar kelak

# kekuatan untuk saling melengkapi kerana pernikahan adalah seperti pelayaran – ada yang menjaga stereng dan ada yang membantu melihat keadaan angin. Saling membantu dan menjaga.
“Andai Allah hadirkan lelaki lain yang belum pernah sha kenal, bukan sahabat yang sha inginkan. Boleh sha terima?”
Terdiam sebentar ketika diajukan soalan yang sama sekali tidak saya sangka akan ditanya oleh ibu ida.
Dan waktu itu seakan saya terlihat api yang menjulang. Apakah boleh aku bersama dengan orang yang tidak aku kenal berpimpin tangan menuju syurgaNYa? Aku ingin bersama dengan orang yang aku kenal. Yang telah aku tanam benih cinta. Bukan bersama dengan orang asing yang belum aku kenal daripada mana wujudnya dia.

“Bagaimana sha? Boleh sha terima?” Wajah bu ida yang tenang dengan suara yang sangat lembut seperti seorang ibu yang cuba memujuk anak kecil yang sedang memberontak apabila permintaannya tidak tertunai seperti yang diharapkan.

“Ya bu, Kalau itu dari Allah, Sha terima. Sha nak Allah. Kalau itu dari Allah pasti Allah redho.”

Dan itulah saat kebahagiaan yang telah sampai ke puncaknya. Apabila kita bergantung harap hanya pada Allah, melepaskan segala permintaan dunia dan hanya Allah menjadi destinasi maka terbentanglah jalan cahaya terang benderang.
Seakan menyala api semangat dalam diri. Menghangatkan impian yang pasti dimakbul Illahi.

Beberapa minggu lepas itu, saya dihubungi oleh seorang teman, pernah berprogram bersama. Kami hanya chat berkenaan kerja, namun tiba-tiba dia usulkan hasrat hatinya. Kami punya misi yang sama. Membangun ummah menjadi professional communicator.
“Dari kita sering berjumpa atas dasar kerja, mungkin kita lanjutkan ke fasa ke seterusnya. Kita boleh terus berkoloborasi tanpa ada fitnah bahkan bisa mengumpul pahala ke Firdausi Allah”. Kata-kata tulusnya membuatkan saya terfikir, Allah adakah dia laki-laki kirimanMU?
Berulang kali saya Tanya pada Allah.. Istikarah, Garpu Tala, solat hajat.. Dan jawapan kekal sama, Itulah yang terbaik untuk saya. Namun, saya tetap memintanya tunggu sehingga saya selesai melaksanakan umrah pada Februari lalu.
Pulang saja dari umroh, kami bersiap untuk pertunangan. Alhamdulillah. Allah Ya Wasi’ telah memudahkan.
2 minggu selepas pertunangan, Allah hantar Corona. Semua orang kena tinggal di rumah. Tiada perjumpaan langsung. Hanya bertanya khabar melalui wa dan call. Ternyata Allah Ya Hafidz tetap menjaga kami sehingga ke tarikh pernikahan yang ditetapkan nanti. InsyaAllah.. Dirancangkan pada bulan Julai ini. Semoga Allah mudahkan.

April 2020, cukup 4 bulan lama perkenalan. Bersandarkan pada kekuatan Cinta Ya Qawiy, saya menerima segala ketentuan yang Allah hadirkan. Tidak pernah saya terfikir untuk bersuamikan seorang graduan Pengajian Islam dan Sunnah serta pakar dalam audio visual yang pasti dapat membantu dalam program training saya kelak.
Puncak nikmat adalah apabila kita berani menyerahkan segalanya pada Rabbul Jalil tanpa ada sebarang prajudis atau prasangka.
Dia yang Maha Kuasa untuk memberikan segala yang terbaik buat hambaNya.
Ajari diri untuk sentiasa “BE ZERO” dan menyerahkan segalanya pada Allah. Dan ketika tahap penggantungan kita pada Allah di tahap maksima maka bersedialah untuk menaiki GORBONG CAHAYA KE DESTINASI YANG PENUH KEAJAIBAN!
Nisha Shah, Malaysia, 6 Ramadan 1441H
See the source image

Cahaya di Atas Samudra




Rabu, 29 April 2020

GERBONG CAHAYA


  1.  #HALTE KERETAKU.#
  2.  Part 2
 Peristiwa "Brian Wash" itu sampai sekarang masih berlangsung, tetapi atas PERTOLONGAN ALLAH dalam GERBONG CAHAYA jualah sudah terlampaui dengan selamat. Allah menguji keimananku melalau disiplin ilmu yang pernah kutempuh. PEMIKIRAN ISLAM konsentrasinya, meski sy menimba ilmu itu selama empat semester di Pascasarjana Universitas Islam, tapi ilmu itu hanya SEPERTI SEBUTIR DEBU dari ilmu Allah yang tak akan pernah habis walau sudah ditulis oleh tinta sebanyak air laut sejagat raya, dan pepohonan sebagai penanya. Yang kujalani hanya ukuran nanometer (tak terhitung kekecilannya) hanya perspektif Islam yg mempengaruhi akal pikirku, tapi karena aku dipaksa masuk kedalam GERBONG CAHAYA, maka jiwaku tercerahkan karena cahaya Nya. Kepada Ibu Ida, Ibu Dewi Giswa, dan ibu - ibu hebat lainnya tak dpt disebut satu persatu di GERBONG CAHAYA, jiwaku tercerahkan. Kembali lagi kepada Sang Guru yang menurut pengkuannya akan mengajar, dalam enam kali pertemuan dg kelompoknya, Alhamdulillah identitas kelompok itu terbongkar, dari kajian2 yg dipaparkannya jelas-jelas menyimpang dari ajaran Iman Islam dan ihsan (aqidah) kita. Jadi meakipun sy ceritakan di sini ttg kajiannya, kita tak akan merasakan indahnya rasa hati, karena yg sedang kuhadapi dari kajian itu bukan cahaya  , tetapi dzulumat (kegelapan) sebuah gerbong lain diluar sana, aku mempelajarinya sebagai disiplin ilmu yg setitik itu.Saya sedang diberi tugas  untuk menulis ttg sebuah aliran yang sudah ditemukan pemahannya dari data dan fakta. kelompok dari aliran sesat   (BERSAMBUNG)
 
 MOHON DO"ANYA, agar dimudahkan lisan saya untuk menyampaikan dakwah bil hal dan bil lisan, serta bil qolam ini. SEMUA ATAS PERTOLONGAN ALLAH  , di GERBONG CAHAYA ini aku menemuka cahaya yang akan membawaku ke ruang luas tak terbatas RUANG CAHAYA DIATAS CAHAYA.Love all, Ibu-ibu hebat yg telah membawaku di GERBONG CAHAYA


See the source image
Tambahkan teks

 

GERBONG CAHAYA



  1.  #HALTE KERETAKU.#
  2.  Part 1

  1. . Alhamdhlillah masih bisa mengejar gerbong cahaya yang sedang melaju pesat ke arah sumber cahaya. Ketika saya sedang merasakan kedamaian, kesejukan dan harapan yang menyelinap diam-diam, saya dekap rasa itu kuat kuat agar kehangatan energi tertinggi dari pancaran cahaya melalui lisan Bu Ida tersayang tidak menghilang. Sebelum membaca postingan ini sy sdg merasakan tingkat energi positip yg merayap ke akal fikir untuk MENCAPAI KESEIMBANGAN antara rasa dan fikir. Alhamdulillah tidak cuma rasa yang tercerahkan, tapi akal fikirpun terselamatkan oleh cahaya relligi, cahaya keimanan yg energinya juga naik turun spt yg dipaparkan dlm teori Prof. David Hawkins. Sy ingin berbagi di gerbong ini ttg energi PIKIRAN YG TERBARUKAN karena imbas vibrasi energi. Dalam beberapa bln terakhir sy sdg dijumpakan Allah dg tantangan pikiran, seorang intelek dtg kpd sy dengan pengakuan untuk berdakwah, mengajak bergabung dalam KELOMPOK PENGAJIAN. hemmmh...... seketika sy tergiur dg ajakan yg bertema : KAJIAN AL- QUR'AN MENURUT SUNAH ROSUL. ........sy semakin yakin dg firman Nya bahwa Allah hanya akan memberi ujian sesuai kemampuan hamba Nya. ny. Ketika imanku menurun ujian datang sesuai kapasitas saya saat itu, Allah mengujiku juga melalui akal pikirku. (BERSAMBUNG)

  1.  😍😍🙏🙏💖💖💖