
BAYANG-BAYANG KELABU
“ Bunda
…………berapa lama bunda sampai bisa melupakan dia? “ Begitu sapanya di WA untukku dari Ayu. Gadis
cantik yang beberapa waktu yang lalu sempat patah hati, sudah terlihat ceria
lagi. Tiga bulan lamanya terbaring lemah, nyaris seperti orang yang tak punya
ruh. Pucat pasi taka ada semburat merah
warna kehidupan di wajahnya . Dalam keadaan seperti itu kusempatkan
untuk memfoto fajahnya dengan tubuhnya terbaring lemah tanpa tenaga, wajah
pucat pasi dan pandangan kosongnya membuatku trenyuh untuk menyapanya dengan
lembut.
“ Cah ayu….,
wis toh aja sedih ” Tak bergeming
dan tak bereaksi atas sapaanku seperti yang tak mendengar apa yang kuucapkan ,
padahal aku duduk di tepi tempat tidur tempatnya berbaring. Pandangannya kosong
jauh menerawang . Kuusap keningnya dan kubisikkan di telinganya :
“Solat yuk !
” Dia menggelengkan kepalanya perlahan,
sambil membuka bibirnya seperti berbisik membalas bisikanku. “ Aku sudah lama tak solat, Bund “ ucapnya
lirih . “ Aku sudah lama meninggalkan solat
, aku lupa lagi bacaannya”
“ Kalau gitu,
gini aja ……” Balasku
“ Ucapkan
Bismillah , kemudian ikuti kata-kata bunda” .
Ayu tidak membantah, kemudian dia mengikutiku mengucapkan basmallah dan
surat alfatihah, tampak bola matanya bergerak- gerak , tapi di pelupuknya
menggenang airmata yang turun dipipinya berbutir-butir. Oh dia masih bisa
menangis, tandanya masih bisa merasakan sesuatu. Tetapi selama ini dia belum
bisa marah, begitu lemah seperti fisiknya yang tak ingin di usik dan tak ingin
diganggu.
“ Kenapa
menangis? “ Ayu menggeleng lagi. Kubiarkan dia mengumbar emosinya dalam diamnya
dengan menangis, agar rasa marahnya bisa terpancing . Seminggu ini
perkembangannya kurang menggembirakan.
Aku yang menemani dan
membimbingnya sering tak tahan membiarkannya seperti itu. Terkadang dari bibirnya terucap : “ Bund “ tapi tak ada kelanjutannya . Paling memilukan
kalau dia sudah memeluk botol aqua , seolah sedang memeluk seseorang dan mengajaknya bicara. Kalau sudah dalam
sikap seperti itu aku harus segera mendekati dan menyadarkannya. Padahal
pesannya dari Ustadz yang mentherapynya melarang kami untuk memanjakannya
, harus tegas, dan kami tidak diizinkan
untuk memenuhi permintaannya. Metodenya begitu. Distrap, dibiarkan dan tak
boleh diapa-apakan, tunggu dia meminta, barulah diberi. Ah sungguh kami tak
mengerti metode apa yang dipakai untuk menterapi orang patah hati macam Ayu.
Kalau mau makan harus mau mengambil sendiri . Kalau tidak mau mandi, harus
dipaksa untuk mau mandi. Terkadang harus dikunci di dalam kamarnya sendiri,
tetapi aku harus menemani. Begitulah
ketika Ayu sedang direhabilitasi mental di sebuah pondok pesantren.
Direhabilitasi karena patah hati.
Lamunanku buyar karena hapeku
bordering lagi, ternyata tanda nada panggil .
“ Bunda ……,
apa kabar? ……aku kangen…..” Terdengar
suara Ayu manja dan ceria.
“ Hai cah
ayu….., Alhamdulillah bunda sehat , kamu sendiri bagaimana? “
“ Bunda…….aku
pengen ngobrol “
“ Bunda……,
berapa lama bunda sampai bisa melupakannya? “
Lagi-lagi pertanyaan itu yang kudengar. Seperti tidak yakin dengan
jawabanku, jadi aku tertawa menggodanya :
“ Mau berapa lama kamu menyimpannya di hatimu,
kemudian kamu melepaskannya dari pikiranmu, maka selama itulah kamu bisa.”
“ Aku ga mau
Bund……aku ga mau menikah dengan orang lain sebelum aku bisa melupakannya” Suaranya nyaring dengan nada riang diselingi
tertawa-tawa “.
“ Tiga puluh
tahun, Bund ?......aduh lama banget ! aku harus menungu tiga puluh tahun untuk
melupakannya ? , kemudian aku baru mau menikah dengan orang lain ? ” . Begitu yang terbersit di benak Ayu
setelah dia sembuh dan keluar dari panti. Berceloteh tak henti-henti dan
menelponku tak terlewatkan seharipun. Pada waktu mendampinginya aku tidak
mengeluarkan nada larangan dan ultimatum, aku mengikuti alur pikirnya, begitu
yang kuingat saran dari psykologku , ketika aku konsultasi dalam rangka
membangun komunikasi dengan anakku yang terasa kurang harmonis sejak lama.
Aku jadi
teringat lagi Ayu ketika dalam proses
terapi di panti itu karena patah hati. , aku mendampinginya tak bisa lengah
sedikitpun. Upaya penyelamatan dari orang tua Ayu atas upaya pemurtadan seorang
laki-laki katolik, pacar Ayu. Ayu patah
hati karena rencana pernikahannya digagalkan Ayah ibunya dengan cara “
menculik” nya kemudian di amankan di panti. Ah…..seperti dalam dongeng. Tapi
ini benar terjadi.
“ Bernard
“ nama laki-laki itu , Seorang laki-laki
berasal dari Tapanuli, beragama Katolik yang telah merebut hati Ayu selama ini.
Ia kakak angkatannya di Fakultas Hukum
Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Selama kuliah sampai lulusnya di FH – UGM.
Meraka membina hubungan sampai merencanakan pernikahan , meskipun rencana pernikahan mereka tidak disetujui oleh orang
tua Ayu . Cukup lama mereka membina
hubungan , meski mereka menyadari ada kendala besar untuk sampai bisa
mewujudkan tujuan dan cita-ciita mereka dari hubungan itu. Rupanya diam-diam
mereka sudah merencanakan pernikahannya dengan matang . Persiapan pesta adatpun
sudah direncanakan pada tanggal yang sudah ditentukan. Sepertinya hanya tinggal
menunggu waktu saja.
Begitulah
rencana mereka, rencana manusia yang hakikinya manusia hanya bisa membuat
rencana, sedangkan rencana Allah SWT lebih besar dari rencana manusia,
kekuasaan Yang Maha Punya Skenario, yang Maha Kuasa.
Ketika orang
tua Ayu mengetahuinya, diam-diam pula merencanakan sesuatu yang tak terpikirkan
olehAyu dan Bernard, sehingga impian Ayu untuk berumah tangga dengan
Bernard buyar ketika orang tua Ayu merencanakan eksekusi penyelamatan putrinya
dari pemurtadan tersebut, tanpa mereka
ketahui. Ayu yang tinggal di kota lain
tidak jauh dari Yogya menerima kabar, tentang ibunya yang jatuh sakit dan harus
dirawat di RS, itu mendadak.
Hari itu,
seusai jam kerja, Ayu di jemput pamannya di depan kantornya. Dengan rasa cemas Ayu menurut apa yang
dianjurkan pamannya. Mobil segera melaju dengan cepat, ketika mobil berbelok ke
lain arah, Ayu mulai curiga, mulailah pamannya bilang bahwa ibunya di rawat di
RS lain. Ayu mulai bertanya-tanya, apa
yang terjadi, ia mulai merengek rengek pada pamannya untuk memperlambat
mobilnya, bahkan minta untuk kembali ke arah RS tujuan semula. Pamannya menegaskan: “
Tidak Ayu…., Ibu menanti di sana “. Tapi ayu sudah merasa yakin , ini
pasti ada sesuatu, sehingga ia merengek-rengek untuk minta diturunkan atau
kembali ke arah RS. Tapi tak dihiraukan. Mobil melaju semakin kencang, memasuki
daerah yang tak dikenal. Ayu semakin panik, tapi tak berdaya, kemudian pasrah
dan mengurangi suaranya, dengan lembut
Ayu memaksakan untuk bertanya : “ Pak Lik ….., ada apa sebenarnya? Ini bukan
tentang Ibu, kan? “ Pamannya hanya
mengangguk mengiyakan. Dengan lemas Ayu pasrah.
Hari sudah
mulai senja mobil memasuki daerah yang agak sepi , banyak pepohonan rindang, Ayu mengenali daerah itu
karena baru beberapa hari dia bersama Bernard ke daerah itu, arah pantai yang
agak curam, meski itu daerah wisata. Ayu berusaha menenangkan diri . “ Oh….kita mau wisata toh ? “ Pamannya hanya
diam saja , tersenyum kecut sambil bercanda juga :
“ Ya…..Ibu sudah menunggu di sana ”
Setiba di
suatu tempat, mobilpun berhenti. Ayu
dipersilahkan turun, tapi Ayu malah diam saja, dia mengamati sekeliling ,
sebuah bangunan yang dikelilingi benteng, berpagar bambu setinggi dada,
pepohonan besar , dan semak belukar yang memberi kesan sepi dan
seram, tapi ada kolam ikan dan kawat jemuran terentang di situ.
“ Ibu sudah di
dalam Nak! ” Ayu diam saja , dengan
penuh curiga wajahnya mulai cemberut,
Ayu tetap tak bergeming. Pamannya membukakan pintu, mulai mendekat : “
ayo…..turun ga?.....atau mau pak lik bopong ? “ Nada lembut dan kelakar pamannya tak
berlaku. Ayu yang biasa diamnjakan oleh seisi rumah, termasuk pamannya yang
saat itu harus melakukan sesuatu , dengan sigap menggamit kedua tangan Ayu dan
dipangkunya Ayu , Ayu tidak meronta karena pegangan tangan pak liknya cukup
kuat. Seperti gadis kecil yang merajuk,
Ayu tak menolak ketika dibopong pamannya. Hanya beberapa langkah, sampai di
ruang tamu. Ayu di dudukkan di kursi di teras rumah.
“ Mana Ibu,
Lik?” tanyanya. “ di kamar. “ Masuklah! “
Di Kamar, kami
sudah menanti sang putri kesayangan keluarga, si Ibu pun sudah terbaring di
tempat tidur, sebetulnya Ibu tidak sakit, tapi dia menanti dengan sabar dan
berdebar – debar apakah upayanya akan berhasil atau tidak. Aku , sesuai instruksi segera keluar meninggalkan mereka, dan aku tak mengerti apa
yang dibincangkan mereka. Tidak lama terdengar ada suara tangis yang tertahan.
Tak lama kemudian ibunya Ayu keluar.
Aku ngobrol
sebentar dengan pamannya Ayu, aku sedikit mengerti masalahnya. Aku baru
beberapa hari tiba di pondok itu untuk belajar menangani remaja yang sedang bermasalah . Panti Rehabilitasi Mental dan Ahlak, adalah
panti di sebuah wilayah Yogyakarta Selatan, di dekat pantai, di pimpin oleh
seorang Ustadz. Di pondok panti rehabilitasi itu para santri pasien dibina dan
diterapi . Kasusnya bermacam-macam. Narkoba maupun kenakalan remaja dan……yang
spesial adalah menangani korban pemurtadan, atau orang-orang yang bermasalah
dalam keluarga, termasuk di dalamnya pemurtadan.
ALHADID nama pesantren itu. Pondok Alhadid 2 adalah
bagian dari Pesantren Alhadid untuk Program Rehabilitasi. Aku dipanggil Ustadz
Yusuf, pimpinan pesantren Alhadid. Beliau mulai memberi tugas padaku, santri
baru penanganan pemurtadan, begitu katanya. Sore itu juga Ayu di tinggalkan di
Al-Hadid. Dia sudah tidak berontak karena menyadari ketidakmungkinannya
berontak. Malam itu Ayu diperkenalkan Ustadz Yusuf padaku, dia memanggilku
dengan panggilan “ Bunda” . Ayu
dimasukkan di sebuah kamar di panti
rehabilitasi itu, aku ditunjuk untuk menjadi pembinanya, mungkin lebih cocok
disebut “ pengasuh” untuk menangani kasus ini.
Setelah Ibunya Ayu dan pamannya berpamitan pada Ustadz Yusuf, aku masuk ke kamar tadi setelah ayu ada di
dalamnya .
Ayu tertunduk
sedih, aku tak berani mengusiknya .
Kumulai menyapanya dengan ucapan :
“
Assalamualaikum, Cah Ayu” Ayu tak
menjawab. Dia duduk di tepi ranjang sambil memegang guling dan diletakkan di pangkuannya. Tiba-tiba ia
melemparkan guling itu ke lantai tanda melampiaskan kemarahannya. Dia menangis
sejadi-jadinya sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Kubiarkan dia
melampiaskan rasa marah dan kecewanya,
kutunggu sampai tangisnya mereda. Setelah beberapa lama tangispun mereda,
perlahan kuhampiri dan kuusap kepalanya sambil kutanya dan minta izin :
“ Boleh bunda
duduk di sini? “ Dia mengangguk
“ Ceritakanlah
apa yang terjadi, anak manis ! “ Malah
tangisnya semakin menjadi .
“ Yo wis,
menangislah kalau belum mau cerita ,
bunda menemani di sini “
Malam itu aku
tak berhasil membujuknya untuk berceritera. Tidak juga untuk menyarankannya
mandi dan mengajaknya solat berjamaah. Ayu mematung untuk beberapa lama . Aku yang sewktu waktu membutuhkan ke luar kamar, terpaksa memegang
kunci kamar. Malam itu Ayu tak ada aktivitas yang berarti , tidak mandi, tidak
solat, tidak makan, juga tidak memejamkan mata sekejappun. Ayu duduk mematung
di tepi ranjang . Rambut acak-acakan, tapi Nampak gadis itu cantik, putih, imut
dan lucu. Sampai besoknya belum juga mau bicara , besoknya lagi juga belum mau,
Ayu benar-benar seperti gadis kehilangan ingatan, aku sedih dan prihatin
melihatnya, aku merasakan kepedihan yang
Ayu rasakan. Aku berusaha terus membujuknya. Sampai di hari ketiga :
“ Ayu………,
makan ya….., nanti kamu sakit kalau ga makan”
“ Aku ga mau
makan Bund, biarkan aku sakit……dan……… mati , aku pengen mati “, teriaknya lagi. Pecah lagi tangisnya tak
terbendung. Aku kebingungan. Kubiarkan Ayu meraung-raung, kutinggalkan dia sendirian di kamar , aku ke kamar mandi dan
berwudhu berniat untuk solat Isya.
Tiba-tiba terdengar ada yang membuka pintu pagar, aku kaget,
tergopoh-gopoh keluar dan memeriksa apa yang terjadi. Masya Allah…..pintu kamar
ayu sudah terbuka , pintu ruang tamu terbuka dan pintu pagarpun terbuka juga ,
tapi sekelilingnya gelap, aku panik. Ayu berusaha ke luar rumah, Ayu mencoba
minggat. Aku segera menghampiri Pos Satpam dan bilang bahwa Ayu kabur. Paniklah seisi panti, meski pasien saat itu
hanya tiga orang. Pak Satpam mengejar
Ayu.” Ah Ayu….Ayu ….Ayu…..bangunan ini dibenteng sekelilingnya, pagarnya
tinggi, dan gelap. Ayu balik sini nak,
bunda ikut ” . Teriakanku berusaha untuk menghadang Ayu. Ayu dihadang Pa
Tasmin, Satpam yang jaga malam itu.
Alhamdulillah. Pak Tasmin berhasil
menghadangnya , Ayu meronta-ronta minta dilepaskan. Berkat kesigapan Pa
Tasmin, Ayu dapat diselamatkan. Upaya minggatnya digagalkan oleh Pa Tasmin,
Satpam yang selalu setia menjaga santri panti.
Keesokan harinya Ayu tampak menyerah , tak ada aktivitas untuk upaya
kabur. Aku mencoba meraihnya lagi, membujuk Ayu supaya mau berceritera tentang masalah yang sedang dihadapinya.
“ Bund, sekarang tanggal
berapa”
“ Tanggal 22 April ”
“ Jadi sepuluh hari lagi
tanggal 1 Mei ya Bun? “
“ Iya, ada apa dengan
tanggal 1 Mei ? “
“ Resepsi pernikahan kami
“
“ Ooh…, jadi Ayu sudah mau
married ? “
Inilah awal perbincangan
yang membukakan hati Ayu mulai mau berceritera tentang rencana tanggal I Mei,
tapi sebentar-sebentar bertanya : “ Aku boleh pulang ya Bund ? ” . Aku berusaha mengikuti alur pikirannya,
dengan harapan agar dia tersadar dengan apa yang sedang menimpanya.
“ Boleh pulang, tapi Ayu
harus sehat dulu. Ayu harus mau mandi, solat, dan mempersiapkan semuanya dengan
sebaik mungkin”
“ Aku mau solat Bund…..,
temani aku wudhu, bimbing lagi aku bacaan solat ”
Aku mengikuti
permintaan Ayu . Alhamdulillah sedikit demi sedikit ia mau mulai cerita
disela-sela isak tangisnya . Ketika
bacaan solat sampai pada bacaan alfatihah , isaknya semakin kerap, tetapi ia
tak membatalkan solatnya sampai salam. Selesai salam iapun sujud lagi dan
menangis lagi. Begitu setiap hari berulang-ulang. Semakin hari tangisnya
semakin berkurang. Ayu sudah mulai mau
makan . Solatnya semakin sering disamping kegiatan lainnya. Mandi, makan, minum
dan berbincang-bincang. Sekedar
mengikuti alur pikirnya akupun berceritera tentang hampir saja aku menjadi
korban pemurtadan. Maka suatu hari terjadilah dialog antara aku dan Ayu. Dialog
dua arah. Menandakan anak asuhanku sudah sehat. Alhamdulillah. Ternyata orang
patah hati itu suli-sulit gampang untuk disembuhka. Entahlah, apakah pendapatku
itu salah atau benar, karena aku sendiri pernah mengalami hal yang sama ,
katakanlah hal yang hampir sama, masalah sekitar perbedaan keyakinan yang
dihampri rasa cinta. Rasa cinta antar manusia lain jenis.
“ Jadi bunda
butuh berapa tahun untuk melupakannya? “
“ Lama ……,
lama sekali , hampir tak pernah bisa melupakannya” “ Kenapa Bund?.....kalau
gitu, Bunda patah hati ya? “
“ enggak juga ….., sayanglah, cuma punya hati satu kok dipatah-patahin ” candaku sambil meliriknya. Ayu terlihat
menunduk tapi tersenyum. Pipinya merona, tandanya sudah merasakan sesuatu
”. Kami terkekeh, kurangkul Ayu sambil kuucapkan : “ Kita tidak
perlu patah hati ya? Kita punya cerita yang sama….., kita harus bahagia dengan
cerita yang sama” Ayu mengangguk ia
tersenyum dan bilang : “ Iya Bund….., aku berjnji, toh Bunda juga bisa bahagia
meski tak jadi menikah dengan dia, meskipun bunda tak bisa melupakannya ”
“ Jadi bunda
butuh berapa lama untuk bisa melupakannya ”
Kembali pertanyaan itu di ulangnya.
“ Tiga puluh
tahun, bahkan sampai sekarang belum bisa melupakannya”
“ Tiga puluh
tahun ? ” Tanyanya lagi.
“ Tak apa-apa
tak bisa melupakannya pun, tetapi kita sudah berusaha, dan tetap menjalankan
kehidupan sesuai iman kita, kita kan punya Allah, punya yang Maha Mencintai
“
Banyak lagi
obrolan dengan Ayu yang menggiring Ayu kepada kesehatan mentalnya. Ini bukan
karena aku bisa membimbingnya, saya yakin ini karena Allah mendengar do’a kami
semua yang membimbing Ayu, terutama do’a ibnya Ayu, yang pasti do’a orang tua
Ayu.
Kondisi ayu
semakin membaik. Aku melayaninya dengan penuh kasih sayang yang tulus, sepenuh
hati karena akupun merasakan rasa sakit
seperti yang di alaminya. Sejak obrolan kami saat itu, Ayu nampak
berusaha keras untuk menyembuhkan hatinya, melupakan kenangannya , dan
membangun kembali harapannya . Aku sungguh-sungguh menyayangi Ayu seperti sayang pada anakku sendiri, meski
pada kenyataannya aku hanya punya satu putra dan itupun hubungan kami bermasalah.
Aku jatuh cinta pada Ayu. Cinta seorang ibu pada anak , tentunya, bukan cinta
selain itu. Hemh….aku seperti merasa punya anak yang baru berjumpa di saat
anakku remaja. Surprise dan sangat
menyenangkan. Tugasku ternyata tidak sebatas
hanya di panti saja, Ayu memintaku menemaninya dalam kurun waktu yang
agak lama, di rumahnya. Aku akhirnya
berkesempatan bertemu lagi dengan ibunya Ayu dan keluarga besarnya,
Alhamdulillah terjalin silaturahmi yang membuatku bahagia, menyebabkan kami
semua bahagia. Setelah kesehatan Ayu dinyatakan sehat sempurna, sehat lahir
batin, maka aku mengantar Ayu pulang ke rumahnya, keluarga besar Ayu menyambut
kedatangan kami dengan penuh rasa syukur. Kini Ayu sudah ceria seperti sedia
kala. Maka terjalinlah silaturahmi dengan
keluarga besar Ayu. Setelah Ayu tegar dan sehat lahir bati, mental maupun
fisiknya, aku diizinkan pulang ke Bandung.
Suatu saat dia
meneleponku, suaranya menandakan sukacita, dengan riang dia bercerita
“ Bunda……betul
kata Bunda, kalau Allah berkehendak ….., dalam sekejap , rasa itu akan berubah,
aku tak perlu menunggu tiga puluh tahun, kalau Allah berkehendak , setelah
upaya dan do’a hanya beberapa hari saja setelah upaya dan do’a itu, Allah
mempertemukan aku dengan teman lamaku sewaktu di SMA yang dulu kami sama-sama
suka. Ternyata orang tuanya adalah sahabat Ibu dan Bapakku. Ternyata aku tak
perlu menungugu tiga puluh tahun untuk kesembuhan hatiku, Insya Aallah aku
sudah sembuh Bunda….., Insya kami akan
merencanakan kebahagiaan itu dengan orang yang dihantarkan Allah setelah aku
berobat, mohon ampunan atas kekeliruanku. Allah memang hebat, Maha Hebat,
ternyata Allah punya scenario yang terindah untuk setiap hambaNya” Tutur Ayu ditelpon, menirukan kalimatku
ketika di panti beberapa waktu yang lalu.
Kututup perbincanganku dengan Ayu di
telpon dengan rasa syukur tak terhingga karena kami sudah diberi pembelajaran
yang sangat berarti. Diingatkan kembali pada pengalaman pertarungan jiwa pada
diriku sendiri. Pembelajaran untuk menguatkan hati, fikir dan iman dengan
penguatan aqidah yang harus terus menerus ditingkatkan. Perjuangan menapaki
jalan lurus Nya memang tidak mudah dan tidak boleh berhenti …….sampai mati.
Kisah ini
kutulis kembali lima tahun setelah peristiwa Ayu, di panti rehabilitasi Iman di
Pesantren Al-Hadid Gunungkidul Yogyakarta.
Kutulis kembali sekedar untuk imunisasi hati disaat aku terkenang lagi
kisah yang menimpaku tiga puluh lima tahu yang lalu. Betapa ringkihnya hati,
tetapi betapa Maha Kuasanya Allah untuk merubah hati seseorang dengan mudah,
dibolak balikan dalam sekejap. Alhamdulillah Allah SWT telah menyelamatkan Ayu
dari pemurtadan, begitu juga hatiku, semoga akupun turut terrehabilitasi dari
rasa terpuruknya. Subhanallah.
Melalui Ayu,
gadis cantik dan cerdas itu Allah menunjukkan kebesaran Nya pada kami.
Jadi…..akupun harus segera bangkit dan sembuh dari rasa keterpurukan ini. Allah
Maha Rahman, Maha Rahim. Bayang-bayang kelabu sudah berlalu……
Sukabumi, 18 Mei 2018.
Kutulis kembali
Di bulan suci
Romadhan 1439 H.





