Selasa, 05 Mei 2015

TRAVELLING 2

 Seoul-Daegu, 14 Februari 2015.
 Proses "mendarat" mulai terasa ketika pesawat memasuki wilayah Incheon. Pesawat mulai beradaptasi dengan ketinggian dan kecepatannya. Guncangan-guncangan kecil terkadang mengagetkan bahkan mendebarkan , maklum penerbangan cukup lama dan aku menjalaninya tanpa didampingi orang-orang yang kukenal. cukup nekad mungkin, berangkat sendiri ke daerah yang sulit dijumpai penumpang yang bisa berbahasa Ind, bahkan bahasa Inggrispun mereka tak mengerti. Sepenuhnya rasa khawatirku kuserahkan kepada Allah.SWT.   
 Inilah pemandangan dari dalam pesawat. Pemandangan ini bisa dilihat dari jendela pesawat. Subhanallah , panorama yang keindahannya sangat mengagumkan. Yang nampak seperti gambar ini kurang lebih jam lima pagi waktu setempat, dan suhu udara luar tercatat 1 (satu) derajat celsius.Hem......dingin sekali. Mantel tebal yang sudah kupakai sejak dalam pesawat tidak bisa mengurangi rasa dingin yang menerpa kulit wajah ketika aku turun dari tangga pesawat.
Inilah pemandangan yang terlihat dari dalam pesawat. Cahaya yang berangsur angsur menjadi terang benderang seiring dengan tampaknya daratan yang.......tak bisa diceritakan dengan kata-kata keindahannya.

...
Pemandangan dari jendela pesawat ketika pesawat akan melandas.
Pesawat mulai menurunkan rodanya.


Pemandangan yang dilihat disepanjang perjalanan Seoul-Daegu suasan pada saat musim dingin.
(Bersambung)

TRAVELLING

Berangkat dari Bandara Soetta , 13 Feb 2015, jam 22.30 .WIB, 

 Menuju  Incheon , Korea Selatan
( Jakrta – Seoul, 12 Februari 2015), The first travelling with my dream.


                                        Mari  Menjelajahi Mimpi  

( Jakrta – Seoul, 12 Februari 2015), The first travelling with my dream.

Ketika aku kecil tak pernah membayangkan kalau suatu saat aku diberi kesempatan dalam taqdirku berkunjung ke Negeri Ginseng. Baru pertama kalinya aku bepergian jauh dan ke negeri orang. Segala persiapan sudah kuperiksa ulang. Aku sangat menanti-nanti moment ini.Perjalanan ini akan kunikmati dalam rasa syukurku pada Nya. Anugrah bagiku saat ajakan / undangan untuk menghadiri wisuda S2 anakku pun tak kuduga, karena aku tak sanggup untuk membayangkan…..berapa besar biaya yang  diperlukan untuk kunjungan itu?. Dalam harap-harap cemas, aku tetap berdo’a : “ Ya Allah perkenankan hamba berkesempatan tadzabur alam di belahan bumi sana. Bergeser  sedikit dari Bujur Timur bumi Indonesia dan agak ke Utara beberapa derajat belahan Utara dari khatulistiwa.  
Aku jadi teringat do’aku beberapa tahun silam ketika mengikuti pelatihan QPL (Quantum Power Learning), bahwa kekuatan pikiran adalah pemberian Allah SWT. kepada manusia untuk dipergunakan dengan baik. Maka berfikir positiplah dan bercita-cita serta berdo’a dengan sepenuh keyakinan bahwa Allah SWT.akan memperkenankan do’a kita. Hasil Akhir adalah hak Allah, namun aku berdoa dengan kesungguhan yang benar-benar hanya mengharapkan Kemurahan Nya semata.
Saat berdo’a aku tak mengingat kemungkinan apapun kecuali berharap akan ada keajaiban Allah serta KemurahanNya. Ketika itu anakku sedang kuliah di sebuah Perguruan Tinngi Negeri di Semester IV.
Aku hanya meng-iyakan kata hati ketika dalam fikiranku ada pertanyaan :
“Kemana ya….aku bisa pergi…., ke luar Negeri…., ya Allah perkenankan aku berkesempatan tadzabur alam ke….Jepang atau…Korea.” Cuma itu…..do’a yang sederhana dan tak terbayangkan kemungkinannya.
            Dua tahun kemudian anakku diwisuda, tak pernah terfikirkan kalau dia diam-diam mencari “Beasiswa” ……..Suatu saat dia memberiku kejutan dengan hasil test nya bahwa dia diterima kuliah program S2 di Yeungnam University.Dan kudukung dia untuk mengambil kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Semoga do’a dan dukunganku senantiasa diridhoi Allah. Aamiin.

Perjalanan malam itu hanya dapat kunikmati antara mimpi dan jaga.Selama kurang lebih 6 jam diperdengarkan musik-musik daerah dari Indonesia Barat sampai ke Timur.


 Aku sengaja memilih tempat duduk di dekat jendela dengan tujuan bisa menikmati pemandangan di cakrawala bebas dari jendela pesawat

Tetapi selama perjalanan itu aku tak dapat melihat pemandangan alam karena memang diangkasa raya nan gelap gulita tak bisa melihat apapun, meski sekedar cahaya bintang sekalipun .
Cahaya mulai berbinar ketika waktu menunjukkak jam 04.50 waktu setempat. Seperti pemandangan di alam mimpi , cakrawala mulai menampakkan garis batasnya. Langit mulai terlihat birunya, dan sinar mentari mulai menggeliat membangunkan mahluk semesta alam disekitarnya. . (Bersambung)


Bandara Soekarno Hatta saat kuhampiri sore hari, 13 Februari 2015.
 Cerita ini kutulis semata - mata wujud rasa syukur ku kepada yang Maha Pemberi Nikmat dan KemurahanNya. Alhamdulillahirrobbil alamin,wasyukrulillah, bi nilmatillah.