Puisi Kehidupan
Perjalanan panjang telah menghantarmudi tepian sukses. Tak ada perjuangan tanpa
air mata dan kepedihan. Perjalananmu masih
panjang anakku, meski sebagiannya sudah kau
lalaui bersamaku.
Perbanyaklah rasa syukurmu pada Nya, karena tanpa tertolongan Nya, kau tak akan mendapatkan apa-apa.
(QS 14 {Ibrahim} ayat 7 )
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي
لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah
juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti
Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku)
,
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Dan ingatlah ketika kau masih dalam asuhanku, sering aku mengungkapkan betapa rasa sayangku padamu tak mungkin terkalahkan pada siapapun dan dari siapapun, anaku,cintaku,rinduku, pinterku, kata-kataku selalu memenuhi rasa dan fikirku, padahal......semua itu tak ada artinya apa-apa kalau kita tak mengingat ; Betapa DIA Sang Maha Memiliki Skenario yang terindah untuk kita. Katika kau kecil aku punya sebait puis untukmu :
Untuk ananda tercinta :
Ketika kau lahir, kau menjadi motivasi hidupku
ketika kau bayi, menjadi buah hati - belahan
jiwaku
Ketika balita , kau menjadi permata hatiku,
menjadi semangatku
Ketika kau remaja , menjadi rangkaian ujian
hidupku,
pencahariaan atas taqdir Tuhan pada setiap desah
nafasku
Setelah dewasa, tak perlu lagi kita pertanyakan,
mengapa DIA memilih kita
untuk jalani taqdir seperti ini, karena taqdir
adalah hak Allah yang
Allah berikan pada hamba Nya setelah kita
sempurna berikhtiar, semoga
keridhoan Allah senantiasa pada setiap jalan yang
kita tapaki menuju
ridho Nya, menuju sorganya kelak. Amin
Kutulis kembali :
Jakarta, 20 Januari 2015
Mengenangmu, mahluk kecil tak berdaya diletakkan disampingku ketika aku sendiri terbaring lemaah, adalah sebuah rasa syukur atas
anugrah yang DIA beri.
Diatas meja oprasi aku masih sempat berdoa diantara mimpi dan jaga : "Ya Allah beri aku kesempatan untuk hidup bersama anakku ini"
Dalam ketakberdayaanku masih kudengar perawat itu barkata :
" Cepat Dok, pasiennya sudah gelisah"
" Coba berhitung Bu!"
- satu....dua....tiga........- suaraku semakin melemah dan....akhirnya....aku cuma merasa tertidur dengan nyenyak.
Entah berapa lama....aku tertidur di meja operasi, ketika terbangun sudah berada di tempat lain yang sejuk, bersih dan rapi.
Seorang berpakain jas putih dan mengalungkan staoskop mendekatiku, dengan lembut dan tersenyum dia menyapaku :
" Bayinya laki-laki Bu, cakep" .Kudengar suster membacakan kondisi bayiku pada dokter itu, aku menangkap sedikit pembicaraan mereka : Berat 1,9 kg dan panjang 44 cm. Bayinya kecil dok! tapi sehat!....entaah apa lagi yang mereka bicarakan, dan dokter itu masih ada disamping tempat tidurku sambil tersenyum dan berucap : "Selamat ya Bu...., bayi ibu sehat.....kecil ...tapi hebat" . Terngiang-ngiang ucapan dokter itu : ".....kecil....tapi hebat....".......engkau lahir dengan tindakan caesar...., mencemaskan......tapi ...ternyata kau sehat dan membuat kami semua harus bersyukur atas kelahiranmu.
" Anakku....kelahiranmu adalah HADIAH ULANG TAHUN di hari kelahiranku.....ajaib memang......, sungguh inilah hadiah yang terindah dihari kelahiranku yang ke 30. Alhamdulilah, Allahu Akbar! Dua puluh lima tahun kemudian di tanggal yang sama engkau memberik hadiah lagi.....ijazah kesarjanaanmu...., kau berikan itu padaku sambil mengatakan : " Selamat Ulang Tahun Ma...., ini hadiah buat Mama"....
(Terimakasih anakku.....atas pemberian hadiah itu untukku)....
Sujud syukur pada Mu Ya Robb, rasanya tak akan bisa mengimbangi nikmat Mu padaku.... jadikan kami orang2 yang pandai bersyukur atas segala nikmat Mu, aamiin...
Kutulis kembali saat kau memberiku lagi hadiah yang indah.....kelulusan Pascasarjanamu dan kau memberiku seorang mantu yang solehah,
Alhamdulillahirobbilalamin, Engkau telah memberiku segalanya,
jadikan kami orang yang bermanfaat untuk sesama aamiin.
Jakarta 21 Januari 2015
Catatan : Tgl 21 adalah tanggal yang bermakna karena hadiah itu selalu kebetulan kuterima pada tgl 21.
anugrah yang DIA beri.
Diatas meja oprasi aku masih sempat berdoa diantara mimpi dan jaga : "Ya Allah beri aku kesempatan untuk hidup bersama anakku ini"
Dalam ketakberdayaanku masih kudengar perawat itu barkata :
" Cepat Dok, pasiennya sudah gelisah"
" Coba berhitung Bu!"
- satu....dua....tiga........- suaraku semakin melemah dan....akhirnya....aku cuma merasa tertidur dengan nyenyak.
Entah berapa lama....aku tertidur di meja operasi, ketika terbangun sudah berada di tempat lain yang sejuk, bersih dan rapi.
Seorang berpakain jas putih dan mengalungkan staoskop mendekatiku, dengan lembut dan tersenyum dia menyapaku :
" Bayinya laki-laki Bu, cakep" .Kudengar suster membacakan kondisi bayiku pada dokter itu, aku menangkap sedikit pembicaraan mereka : Berat 1,9 kg dan panjang 44 cm. Bayinya kecil dok! tapi sehat!....entaah apa lagi yang mereka bicarakan, dan dokter itu masih ada disamping tempat tidurku sambil tersenyum dan berucap : "Selamat ya Bu...., bayi ibu sehat.....kecil ...tapi hebat" . Terngiang-ngiang ucapan dokter itu : ".....kecil....tapi hebat....".......engkau lahir dengan tindakan caesar...., mencemaskan......tapi ...ternyata kau sehat dan membuat kami semua harus bersyukur atas kelahiranmu.
" Anakku....kelahiranmu adalah HADIAH ULANG TAHUN di hari kelahiranku.....ajaib memang......, sungguh inilah hadiah yang terindah dihari kelahiranku yang ke 30. Alhamdulilah, Allahu Akbar! Dua puluh lima tahun kemudian di tanggal yang sama engkau memberik hadiah lagi.....ijazah kesarjanaanmu...., kau berikan itu padaku sambil mengatakan : " Selamat Ulang Tahun Ma...., ini hadiah buat Mama"....
(Terimakasih anakku.....atas pemberian hadiah itu untukku)....
Sujud syukur pada Mu Ya Robb, rasanya tak akan bisa mengimbangi nikmat Mu padaku.... jadikan kami orang2 yang pandai bersyukur atas segala nikmat Mu, aamiin...
Kutulis kembali saat kau memberiku lagi hadiah yang indah.....kelulusan Pascasarjanamu dan kau memberiku seorang mantu yang solehah,
Alhamdulillahirobbilalamin, Engkau telah memberiku segalanya,
jadikan kami orang yang bermanfaat untuk sesama aamiin.
Jakarta 21 Januari 2015
Catatan : Tgl 21 adalah tanggal yang bermakna karena hadiah itu selalu kebetulan kuterima pada tgl 21.
Cerpen
Kubaca pesan pendek dari anakku.
“ Ma, maafkan Danang . .
. , sampai habis tak bersisa . . . .” tulisnya.
Kutahu yang ia maksud , sampai tuntas tak tersisa yang harus
kumafaakan. Aku tersenyum. Jika dekat, anak itu memang selalu membuatku
gusar.Ada saja hal yang kami tidak sependapat.Entah itu masalah sepele,ataupun
masalah serius.Tapi bagaimanapun aku sudah banyak memakluminya,dan tentu
kumaafkan. Saat terakhir ia pulang,menuntutku untuk lebih sabar lagi.Ia tak mau
ngomong apapun.Wajahnya ditekuk tak sedikitpun nampak garis senyum. Itu bukan sekedar merajuk. Aku
rasa ia sedang sangat sedih.
“ Kenapa ? “ sapaku baik baik, ia menggelengkan kepala.
Kalau sudah macet begitu biasanya kubiarkan dulu, tapi pikiranku
bekerja keras untuk mencari jawabannya.
Aku sering berdiskusi dengan teman jika ada
masalah yang sama, masalah single-parent yang membesarkan anak laki-lakinya ,
seorangdiri. Padahal demi anak itulah kupilih bertahan sendiri sekian lama. Ah , sebetulnya jujur saja aku bukan bertahan,
namun kesempatan untuk mengganti kehadiran ayah Danang tak sengaja kuabaikan.
Aku terlalu takut untuk memulai satu hubungan,karena selalu saja mengingatkanku
pada kegagalan yang kualami. Kepercayaanku kepada ayah Danang, dulu ternodai.
Itu duapuluh tahun yang lalu,saat biduk rumahtanggaku baru saja
dimulai.
Sekarang puteraku sudah besar. Sempat terbersit dalam fikiranku,
sifat anakku tak boleh terlalu dominan menurun dari sang ayah. Itu suatu
kekhawatiran. Namun aku sadar bahwa sifat genetic seseorang sedikit banyak akan
nampak juga kesamaan dengan orang tuanya.Baik fisik ataupun non fisik, baik
atau buruk , sebetulnya sudah merupakan suatu anugrah . Yang harus kita terima
dan disyukuri. Karena tentu, anugrah itu karunia Allah.Sedangkan sifatku yang menurun
pada Danang juga kekerasan hatinya, kemauan yang pantang surut jika ada yang
ingin dicapainya. Namun semua itu bagai bias yang sering memantul dalam keadaan
yang aku tidak siap , hingga kurang menyenangkan. Itulah mungkin yang akan
menjadi ujian bagiku.Sama sama keras hati,namun bersyukur bahwa kecerdasanpun
diberikan Allah padanya sama banyak,tinggal mengasahnya agar bertambah. Yang
peka adalah emosinya.Ini juga rupanya kuturunkan padanya. Anakku adalah cermin
diriku. Kadang aku tidak siap menghadapi tuntutannya , yang menginginkan
aku menjadi ibu yang sempurna. Ia tak
mau aku menjadi ibu yang hanya memperhatikan karierku. Ia ingin aku menjadi ibu
yang selalu mengerti keinginan keinginan kecilnya.Tapi aku seringkali merasa
takut, ia tidak akan dapat mandiri jika selalu kuturuti. Aku sempat kehilangan
masa ,dimana Danang terpaksa kutitipkan kepada kakakku, budenya. Masa masa sulit dimana aku harus menjadi
diriku, menjadi ibu sekaligus ayahnya.Masa pencarian yang panjang. Masa
perjuanganku untuk menerima kesendirian dengan tugas dua peran. Mencari
jatidiri. Tentu saja.Aku merasa kehilangan jatidri setelah mengalami
kegagalan.Sering muncul pertanyaan dalam hati,siapa aku dan harus bagaimana aku
agar keberadaanku bermanfaat untuk hidupku , dan anakku ? Dalam keluargaku aku
sudah terbiasa mandiri , karena terlahir di keluarga besar yang sederhan dan
memiliki banyak saudara.
Tanpa punya keinginan mempertanyakan kenapa, aku sadar, sebagai anak tengah dari tujuh
bersaudara aku tak mungkin mengharapkan
segalasesuatu yang special untuk diriku seorang.Itulah bekal yang kubawa ketika
Allah memberiku seseorang, untuk menjadi suamiku.
Ketika itu , aku berfikiran, inilah pengabdian untuk seumur
hidup.
Aku ingin memiliki imam yang membawaku jauh kedepan yang lebih
baik didunia maupun untuk bekal pulang nanti. Namun, ternyata Allah memberiku
kesempatan untuk berjuang terus. Karena hanya sekejap saja rumahtanggaku itu
bisa bertahan. Ketika suamiku tidak dapat menerima keadaan ekonomi yang sulit,
kemudian berpaling kepada keinginannya untuk bebas tanpa punya beban tanggung
jawab, apakah aku masih bisa mengharapkan dia untuk menjadi penanggungjawab ?
Saat seperti itulah kemudian aku tergerak untuk bangkit.
Alhamdulillah Aku diberi jalan oleh Allah untuk berkarier , dan
suamiku saat itu kehilangan pekerjaan karena memilih milih kiranya sesuai
keinginan,bukan kebutuhan.Rupanya karena ia mempertahankan gengsi untuk
dirinya, ia tidak bisa menerima keadaan itu.Padahal aku dan keluargaku menerima
saja keadaan sementara itu, tidak menjadikan masalah walau harus
dijalani.Apalagi itu saat masih baru saja menikah,dan hanya dalam waktu cuti
dua minggu, aku harus berangkat kembali
bekerja yang kebetulan ditempat kan jauh disebuah kota besar diluar pulau
Jawa.Ia tak keberatan.Tetapi karena keterbatasan persiapan kami,terpaksa ia
melepas keberangkatanku sendiri walaupun ia tak sedang terikat bekerja,berarti
waktu memungkinkan untuk itu.
Ketika aku tahu bahwa aku hamil , aku betul betul seorang diri.
Itu kujalani dengan harapan, suatu saat suamiku akan menyusul dan mencari
penghidupan di kota
yang sama.Aku berbesar hati untuk itu, karena suamiku sebetulnya seorang
sarjana, yang artinya ia sudah punya modal akademis untuk berusaha mencari dan
merintis jalan rezeki. Jika ada kemauan pasti ada jalan. Itu motto ku .Pepatah
kuno itulah yang selalu menjadi semangat bagiku.Namun ternyata tidak menjadi
pendorong semangat bagi suamiku.
Beberapa bulan kujalani jauh dari siapapun yang menjadi pemacu
semangatku,harapan dan kebahagiaanku tertumpu pada calon anakku yang tumbuh
dalam rahimku dengan kondisi baik,sehat dan tidak rewel.Hanya saja ketika usia
kandunganku tujuh bulan , dokter mengatakan bahwa bayiku sungsang. Masya
Allah,hatiku sempat panik.Berarti jika melahirkan aku harus siap menjalani Caesar.
Kepanikanku bertambah ketika aku menyadari, bahwa suamiku tidak menampakkan
perhatian dan komunikasi yang lebih baik.Namun aku memakluminya,mungkin karena
ia sedang mencari pekerjaan yang diingikannya di ibukota. Akhirnya aku tidak
terlalu berharap banyak akan kehadirannya segera disampingku. Tiba saat akan melahirkan ,aku pulang. Perusahaan
tempatku bekerja mengijinkanku mengambil cuti sampai masa cuti melahirkan
selesai. Namun aku berserah diri kepada Allah,dan berbaik sangka kepadaNya
untuk mengundukan diri saja dari
pekerjaan yang jauh dari keluarga itu. Aku yakin,setelah lahir si Kecil, Allah
akan memberiku lagi pekerjaan.Allah pasti akan memberi kami rezeki.Jadi aku
pulang dengan berbesar hati.
Suamiku tak segera nampak ketika keluarga menjemputku di
bandara. Hanya kakak dam ibuku yang dari jauh sudah kelihatan sangat antusias.
Terutama kakak perempuanku, ia dengan suaminya menjemputku,ibu dan ayahku
segera memelukku ketika aku keluar dari ruang kedatangan dengan senang hati. Dengan
perut besar dan mata memandang sekeliling , aku tidak juga segera menampak
sosok samiku. Apakah kepulanganku tidak membuat suamiku bahagia ? Aku tidak mau
berfikiran jelek.Barulah,setelah beberapa lama kemudian ia tiba tiba
menghampiri tanpa aku lihat kehadiran sebelumnya.
Dingin. Aku sedih.Tapi aku berfikir positip,mungkin ia akan
meberiku sebuah kejutan.Namun ternyata kejutan yang kuharapkan itu sampai
kapanpun tak pernah aku dapatkan.
Benar kata dokter, bayiku memang sungsang.Danang dilahirkan
dengan operasi Caesar.Kurasa Ayahnya
kian terasa semakin jauh,dan
seolah aku tak mengenali hatinya. Itulah
saat saat yang terasa menyakitkanku.
Beberapa bulan kemudian aku dan ibu mertua mengetahui bahwa
suamiku sudah lama menjalin kedekatan dengan wanita lain.
Di pengadilan agama ketika aku mengajukan gugatan cerai setelah
setahun kemudian tak ada perbaikan,ia hanya menjawab pertanyaan hakim dengan
alasan , ingin berpisah karena belum sanggup berumahtangganya. Aneh,
pikirku.Selama ini bukankah ia yang mengajakku segera menikah ? padahal aku
hanya sedang cuti lebaran saja saat pulang waktu dilamarnya.Dan aku terpaksa
meminta perpanjangan cuti ketika itu. Tapi aku tak bisa memaksakan
ketidaksanggupannya. Walaupun aku masih menyayangi dan menghormatinya,serta
akupun belum pernah merasakan seperti apa yang namanya benar benar berkumpul
dengan suami dalam keseharian berumahtangga,namun akupun punya rasa enggan
untuk meneruskan.Dan aku harus berusaha mencari pekerjaan kembali untuk
menghidupi aku dan anakku. Maka,kutitipkan Danang pada kakakku.Aku mendapat
pekerjaan di sebuah perusahaan dengan posisi sementara,yaitu menggantikan
seorang karyawatinya yang mau menjalani cuti melahirkan.Berarti aku mendapatkan
posisi itu hanya untuk tiga bulan saja.Selebihnya,kupasrahkan lagi kepada Sang Pengatur
kehidupan.
Dengan sangat senang hati kakakku memelihara dan membesarkan
Danang, penuh kasihsayang.
Mereka mengurus Danang sampai dewasa.Cinta bude-pakdenya begitu
besar,bahkan sampai anakku kuliah kakakku memberikan bantuan yang luar biasa,
tidak hanya support moral, materipun tidak sedikit selalu diberikannya.Aku
sangat berhutang budi.Sementara ayahnya sendiri tak pernah sedikitpun ada
komunikasi.
Memang ketika ibu dan bapak mertua masih ada,keluarga suami ada
juga memberikan perhatian untuk Danang.Begitupun adik-adik ayah Danang.Akupun
tidak menutup komunikasi dengan mereka,dan kuupayakan pengenalan mereka kepada
anakku sejak saat ia masih kecil.Aku selalu berharap semoga komunikasi anakku
dngan mereka terus berlanjut sebagai silaturahim.Walau aku tahu,anakku tidak
pernah menceriterakan apapun tentang komunikasinya dengan mereka.
Danang seperti menyimpan keengganan setiap aku ingin tahu tentag
hal itu.Aku mengerti,anakku memiliki sifat yang sama dengan ayahnya,sehingga
aku sering kesulitan untuk mengerti hatinya, ia tertutup,dan merasa gengsi
untuk mengutarakan apapun kepadaku.Itulah sifatnya yang menyulitkanku dan
dirinya sendiri,sehingga aku tidak tahu harus berbuat apa.Itulah mungkin
sebabnya,mengapa kami seringkali bertengkar dan berbeda pendapat.
Kadang aku merasa tidak berhasil menyelaraskan hati dengan
anakku.Kadang aku merasa putus asa untuk menjadi ibu yang terbaik buat
dia.Namun aku bersyukur, kakakku telah mendidiknya menjadi anak yang
shaleh.Taat menjalankan agama sejak kecil, dibesarkan kakakku, berdua dengan
puteranya sendiri yang berjarak usia dua tahun.
Aku kangen kepada anakku , aku kangen kepada pangeran kecilku.
Aku kangen pada kebahagiaanku yang terenggut perjalanan hidup yang sudah kulalui.Tapi itu karena kehendak Allah.
Sering aku bercerita pada Danang , bahwa ayahnya seorang yang
baik.
Aku tak pernah ingin mengatakan pada anakku bahwa
ayahnya,menurut ibu mertuaku,seorang yang egois dan memiliki watak yang
keras.Aku mengerti latar belakang keluarganya. Ayah Danang tumbuh sebagai
seorang anak mama yang selalu dilindungi dan dibela apapun tindakannya.
Semula,dulu, aku berharap dapat sedikit berperan untuk
mendukungnya menjadi seorang suami dewasa dan berani menempuh kehidupan.Namun
ternyata sangat tidak mudah aku menyiapkan diri untuk itu.
Aku selalu harus mengerti, dan belajar mengalah.
Mungkin sikap mengalahku ini tidak cukup untuk menjemput
kebahagiaan berumahtangga yang belum sempat kuraih.Dan aku harus tetap mandiri
jika ingin survive,berjuang untuk memperoleh kebahagiaan.
Untuk itulah anakku tumbuh tanpa selalu dengan sentuhan
tanganku.
Aku akhirnya bisa faham
mengapa anakku sering protes seolah selalu tidak puas terhadap
perhatianku.
Di e-mail untuk dia aku membalas pesan singkat permohonan
maafnya,yang kuterima menjelang memasuki bulan puasa.Hari inipun aku ingin
mengirimnya lagi, mudah mudahan segera ia baca.
“Danang sayang, engkau tidak tahu betapa mama mencintaimu.Betapa
ingin selalu mengurus dan memberikan yang terbaik buatmu nak. Maka mama
berupaya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanmu. Alhamdulillah,kemudahan
selalu diberikan oleh Allah untuk menjemput rizkimu.Maka ketika mama sadar
bahwa engkau sedang bersedih,mama segera berfikir,adakah yang harus mama
lakukan lagi untukmu nak ?
Danang, dulu ketika engkau kecil,jika mama kangen,suka menulis
untukmu.Bunyinya begini : Buat Danang mungil buah hatiku, harapanku , rinduku.
Mama kangen. Tapi mama harus bekerja dan jarang berjumpa.Mama melihat kasih
sayang yang luarbiasa dari bude,pakde dan abangmu.Mama bahagia.Anakku harus
sehat , harus kuat.Sekuat batu karang yang tegar walau diterjang ombak.Cepatlah besar nak , cepat
lah mencari ridho Allah selalu.Suatu saat kau akan mengerti,betapa sebetulnya
ayah ‘memerlukan’ dan bangga padamu.Betapa mama lebih bangga dan menantimu, selalu
berdo’a agar Danang menjadi orang hebat.Danang yang dapat menghibur mama ,
menjadi harapan mama. Mama tahu , engkau kecil , tapi hebat !”
Begitulah email yang kukirim.Mudah mudahan dapat sedikit melerai
kesedihannya.Aku tahu ketika ia datang dan tak berbicara apa-apa,ia sedang
jenuh dengan masalah kuliahnya.Ia sangat menginginkan kemudahan kemudahan
fasilitas yang mendukung semua kegiatannya.Terutama masalah keuangan.Ia
menginginkan aku memfasilitasinya lebih banyak lagi. Ia ingin seperti orang
lain,yang mendapatkan dukungan lengkap kedua orang tuanya, moril dan materil.
Emosinya sedang tersulut oleh kesulitan kesulitan kecil yang
harus dilaluinya,dan ia sedang merasa lelah mengatasi semua itu.Sampai Ia ingin
berhenti kuliah hanya karena merasa lelah,dan ingin mencari kerja untuk
memenuhi keinginan keinginan finansialnya.
Karena itu aku sungguh tidak setuju,jika hal itu harus
dilakukannya. Ia harus tetap bisa menyelesaikan kuliahnya.Dan ia harus berani
berjuang untuk mewujudkan cita citanya.Ia harus bisa mengatasi masalah
kejenuhannya.Kuakui,uang yang kusisihkan dari gajiku setiap bulan tidak akan
dapat mencukupi kebutuhannya secara nominal.Padahal itu sudah setengah dari
gajiku,artinya pendapatanku selalu dibagi dua.Kucukupkan sendiri kebutuhanku
dengan berserahdiri kepada Yang Maha Pemberi rezeki dan berikhtiar
mengatur,dengan manajemen hati yang kona’ah.Alhamdulillah.Ada saja rejeki
tambahan yang diberikan Allah dengan tidak disangka sangka.Begitupun sebetulnya
yang dilakukan Danang. Sambil melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiswa,ia
juga mendapat uang saku tambahan dari siswa siswa yang diberi bimbingan belajar
secara privat. Aku sangat bangga dengan kemampuan dia.Dan iapun begitu gigih
dan bersemangat melakukannya.
Tentu , ada saatnya ia merasa jenuh dan letih.Walaupun ia juga
selalu mendapat dukungan besar dari paman dan bibinya dimana ia tinggal.
Peran adikku sekeluarga
tidak kecil.Disitu anakku tinggal.Adikku sekeluarga memberikan yang
terbaik,sama seperti memperlakukan puterinya. Sebetulnya ia mendapatkan semua
fasilitas keluarga.
Namun begitulah , disaat saat tertentu ia mencari figure yang
dapat memberinya motivasi dan semangat,disaat itulah ia mungkin merasa sangat
lelah.Dan menumpu-kan keletihannya itu seolah kepada keadaan finansial yang tidak
mendukungnya.Padahal sebetulnya mungkin,kepada masa lalu dan ketidak utuhan
sebuah keluarga dimana seharusnya ia tumbuh dan berada. Latar belakang yang
secara tidak sadar senantiasa membayangi dan membias dalam dirinya.
Tentu saja aku harus dapat mengingatkan anakku,bahwa itu semua
bukan kehendak kita.Dan kita harus dapat selalu menerimanya. Menerima apapun
yang diberikan Allah,dan meyakini bahwa itulah yang terbaik untuk kita.Rasa
pasrah bukan berarti menyerah tanpa ikhtiar.
Aku mengerti ,anakku telah melakukan yang terbaik untuk
dirinya.Dan aku percaya , satu saat rasa letih itu akan surut juga dari
fikirannya.
Ia hanya sedang membutuhkan sentuhan yang dapat membangkitkan
harapannya.
“Teruskanlah kuliah Nak ! Cape fisik
dan fikiranmu sudah barang tentu. Tapi kita tak boleh putus asa. Mungkin
suasana lain yang kau inginkan adalah lebih banyak berinteraksi dengan teman
kuliahmu,bisa saja tinggal dengan mereka, kost bersama mereka.Walaupun
konsekwensinya tentu masalah biaya. Karena selama ini fasilitas harian itu kau
peroleh dari keluarga yang menaungimu.Apakah tidak kau syukuri kemudahan itu ?
Kesulitan kita mungkin tidak seberapa dibandingkan orang lain yang lebih susah
dan tidak mendapatkan kesempatan yang mudah untuk mencari ilmu di Perguruan
Tinggi Negeri yang kau sudah berhasil menembusnya.Alhamdulillah.
Maka kau jangan bersedih ,seperti kata pesan dari judul buku Laa
Tahzan! berbahagia dan bersemangatlah.Mama selalu berdoa’ untuk keberhasilanmu”
begitulah akhir email ku.
Bias kehidupan yang harus kulalui , bukan sekedar fatamorgana
yang hanya dapat dilihat mata. Akan tetapi harus menjadi semangat hidupku
Kutatap harapan kedepan,disana ada Danang anakku, dengan warna
kehidupan dan karakter tegar, sebagai bias dari masa laluku. ****
Bandung , 10 romadhon
1430 h
garnasih@trisakti.ac.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar