Kamis, 24 Mei 2018

Edisi : BAYANG-BAYANG


BAYANG-BAYANG KELABU

 

 “ Bunda  …………berapa lama bunda sampai bisa melupakan dia? “   Begitu sapanya di WA untukku dari Ayu. Gadis cantik yang beberapa waktu yang lalu sempat patah hati, sudah terlihat ceria lagi. Tiga bulan lamanya terbaring lemah, nyaris seperti orang yang tak punya ruh. Pucat pasi taka ada semburat merah  warna kehidupan di wajahnya . Dalam keadaan seperti itu kusempatkan untuk memfoto fajahnya dengan tubuhnya terbaring lemah tanpa tenaga, wajah pucat pasi dan pandangan kosongnya membuatku trenyuh untuk menyapanya dengan lembut.
“ Cah ayu…., wis toh aja sedih ”      Tak bergeming dan tak bereaksi atas sapaanku seperti yang tak mendengar apa yang kuucapkan , padahal aku duduk di tepi tempat tidur tempatnya berbaring. Pandangannya kosong jauh menerawang . Kuusap keningnya dan kubisikkan di telinganya  :
“Solat yuk ! ”   Dia menggelengkan kepalanya perlahan, sambil membuka bibirnya seperti berbisik membalas bisikanku.  “ Aku sudah lama tak solat, Bund “ ucapnya lirih  . “ Aku sudah lama meninggalkan solat , aku lupa lagi bacaannya”
“ Kalau gitu, gini aja ……”     Balasku
“ Ucapkan Bismillah , kemudian ikuti kata-kata bunda” .  Ayu tidak membantah, kemudian dia mengikutiku mengucapkan basmallah dan surat alfatihah, tampak bola matanya bergerak- gerak , tapi di pelupuknya menggenang airmata yang turun dipipinya berbutir-butir. Oh dia masih bisa menangis, tandanya masih bisa merasakan sesuatu. Tetapi selama ini dia belum bisa marah, begitu lemah seperti fisiknya yang tak ingin di usik dan tak ingin diganggu.
“ Kenapa menangis? “ Ayu menggeleng lagi. Kubiarkan dia mengumbar emosinya dalam diamnya dengan menangis, agar rasa marahnya bisa terpancing . Seminggu ini perkembangannya kurang menggembirakan.   Aku  yang menemani dan membimbingnya sering tak tahan membiarkannya seperti itu. Terkadang  dari bibirnya terucap : “ Bund “  tapi tak ada kelanjutannya . Paling memilukan kalau dia sudah memeluk botol aqua , seolah sedang memeluk seseorang  dan mengajaknya bicara. Kalau sudah dalam sikap seperti itu aku harus segera mendekati dan menyadarkannya. Padahal pesannya dari Ustadz yang mentherapynya melarang kami untuk memanjakannya ,  harus tegas, dan kami tidak diizinkan untuk memenuhi permintaannya. Metodenya begitu. Distrap, dibiarkan dan tak boleh diapa-apakan, tunggu dia meminta, barulah diberi. Ah sungguh kami tak mengerti metode apa yang dipakai untuk menterapi orang patah hati macam Ayu. Kalau mau makan harus mau mengambil sendiri . Kalau tidak mau mandi, harus dipaksa untuk mau mandi. Terkadang harus dikunci di dalam kamarnya sendiri, tetapi aku harus menemani.  Begitulah ketika Ayu sedang direhabilitasi mental di sebuah pondok pesantren. Direhabilitasi karena patah hati.
            Lamunanku buyar karena hapeku bordering lagi, ternyata tanda nada panggil .
“ Bunda ……, apa kabar? ……aku kangen…..”  Terdengar suara Ayu manja dan ceria. 
“ Hai cah ayu….., Alhamdulillah bunda sehat , kamu sendiri bagaimana? “
“ Bunda…….aku pengen ngobrol “
“ Bunda……, berapa lama bunda sampai bisa melupakannya? “  Lagi-lagi pertanyaan itu yang kudengar. Seperti tidak yakin dengan jawabanku, jadi aku tertawa menggodanya :
  Mau berapa lama kamu menyimpannya di hatimu, kemudian kamu melepaskannya dari pikiranmu, maka selama itulah kamu bisa.”
“ Aku ga mau Bund……aku ga mau menikah dengan orang lain sebelum aku bisa melupakannya”  Suaranya nyaring dengan nada riang diselingi tertawa-tawa “.
“ Tiga puluh tahun, Bund ?......aduh lama banget ! aku harus menungu tiga puluh tahun untuk melupakannya ? , kemudian aku baru mau menikah dengan orang  lain ? ” . Begitu yang terbersit di benak Ayu setelah dia sembuh dan keluar dari panti. Berceloteh tak henti-henti dan menelponku tak terlewatkan seharipun. Pada waktu mendampinginya aku tidak mengeluarkan nada larangan dan ultimatum, aku mengikuti alur pikirnya, begitu yang kuingat saran dari psykologku , ketika aku konsultasi dalam rangka membangun komunikasi dengan anakku yang terasa kurang harmonis sejak lama.    
Aku jadi teringat lagi Ayu ketika  dalam proses terapi di panti itu karena patah hati. , aku mendampinginya tak bisa lengah sedikitpun. Upaya penyelamatan dari orang tua Ayu atas upaya pemurtadan seorang laki-laki katolik, pacar Ayu.  Ayu patah hati karena rencana pernikahannya digagalkan Ayah ibunya dengan cara “ menculik” nya kemudian di amankan di panti. Ah…..seperti dalam dongeng. Tapi ini benar terjadi.
“ Bernard “  nama laki-laki itu , Seorang laki-laki berasal dari Tapanuli, beragama Katolik yang telah merebut hati Ayu selama ini. Ia kakak angkatannya di Fakultas  Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Selama kuliah sampai lulusnya di FH – UGM. Meraka membina hubungan sampai merencanakan pernikahan , meskipun rencana  pernikahan mereka tidak disetujui oleh orang tua Ayu  . Cukup lama mereka membina hubungan , meski mereka menyadari ada kendala besar untuk sampai bisa mewujudkan tujuan dan cita-ciita mereka dari hubungan itu. Rupanya diam-diam mereka sudah merencanakan pernikahannya dengan matang . Persiapan pesta adatpun sudah direncanakan pada tanggal yang sudah ditentukan. Sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja.
Begitulah rencana mereka, rencana manusia yang hakikinya manusia hanya bisa membuat rencana, sedangkan rencana Allah SWT lebih besar dari rencana manusia, kekuasaan Yang Maha Punya Skenario, yang Maha Kuasa. 
Ketika orang tua Ayu mengetahuinya, diam-diam pula merencanakan sesuatu yang tak terpikirkan olehAyu dan Bernard,  sehingga  impian Ayu untuk berumah tangga dengan Bernard buyar ketika orang tua Ayu merencanakan eksekusi penyelamatan putrinya dari pemurtadan tersebut,  tanpa mereka ketahui.   Ayu yang tinggal di kota lain tidak jauh dari Yogya menerima kabar, tentang ibunya yang jatuh sakit dan harus dirawat di RS,  itu mendadak.
Hari itu, seusai jam kerja, Ayu di jemput pamannya di depan kantornya.   Dengan rasa cemas Ayu menurut apa yang dianjurkan pamannya. Mobil segera melaju dengan cepat, ketika mobil berbelok ke lain arah, Ayu mulai curiga, mulailah pamannya bilang bahwa ibunya di rawat di RS lain. Ayu mulai bertanya-tanya,  apa yang terjadi, ia mulai merengek rengek pada pamannya untuk memperlambat mobilnya, bahkan minta untuk kembali ke arah RS tujuan semula. Pamannya  menegaskan: “  Tidak Ayu…., Ibu menanti di sana “. Tapi ayu sudah merasa yakin , ini pasti ada sesuatu, sehingga ia merengek-rengek untuk minta diturunkan atau kembali ke arah RS. Tapi tak dihiraukan. Mobil melaju semakin kencang, memasuki daerah yang tak dikenal. Ayu semakin panik, tapi tak berdaya, kemudian pasrah dan  mengurangi suaranya, dengan lembut Ayu memaksakan untuk bertanya : “ Pak Lik ….., ada apa sebenarnya? Ini bukan tentang Ibu, kan? “   Pamannya hanya mengangguk mengiyakan. Dengan lemas Ayu pasrah.  
Hari sudah mulai senja mobil memasuki daerah yang agak sepi , banyak  pepohonan rindang, Ayu mengenali daerah itu karena baru beberapa hari dia bersama Bernard ke daerah itu, arah pantai yang agak curam, meski itu daerah wisata. Ayu berusaha menenangkan diri . “  Oh….kita mau wisata toh ? “ Pamannya hanya diam saja , tersenyum kecut sambil bercanda juga :
 “ Ya…..Ibu sudah menunggu di sana ”
Setiba di suatu tempat, mobilpun berhenti.  Ayu dipersilahkan turun, tapi Ayu malah diam saja, dia mengamati sekeliling , sebuah bangunan yang dikelilingi benteng, berpagar bambu setinggi dada, pepohonan besar  ,  dan semak belukar yang memberi kesan sepi dan seram, tapi ada kolam ikan dan kawat jemuran terentang di situ.
“ Ibu sudah di dalam Nak! ”     Ayu diam saja , dengan penuh curiga  wajahnya mulai cemberut, Ayu tetap tak bergeming. Pamannya membukakan pintu, mulai mendekat : “ ayo…..turun ga?.....atau mau pak lik bopong ? “   Nada lembut dan kelakar pamannya tak berlaku. Ayu yang biasa diamnjakan oleh seisi rumah, termasuk pamannya yang saat itu harus melakukan sesuatu , dengan sigap menggamit kedua tangan Ayu dan dipangkunya Ayu , Ayu tidak meronta karena pegangan tangan pak liknya cukup kuat. Seperti  gadis kecil yang merajuk, Ayu tak menolak ketika dibopong pamannya. Hanya beberapa langkah, sampai di ruang tamu. Ayu di dudukkan di kursi di teras rumah.
 “ Mana Ibu,  Lik?”   tanyanya. “  di kamar. “ Masuklah! “ 
Di Kamar, kami sudah menanti sang putri kesayangan keluarga, si Ibu pun sudah terbaring di tempat tidur, sebetulnya Ibu tidak sakit, tapi dia menanti dengan sabar dan berdebar – debar apakah upayanya akan berhasil atau tidak.  Aku , sesuai instruksi segera keluar  meninggalkan mereka, dan aku tak mengerti apa yang dibincangkan mereka. Tidak lama terdengar ada suara tangis yang tertahan. Tak lama kemudian ibunya Ayu keluar.
Aku ngobrol sebentar dengan pamannya Ayu, aku sedikit mengerti masalahnya. Aku baru beberapa hari tiba di pondok itu untuk belajar menangani  remaja yang sedang bermasalah .  Panti Rehabilitasi Mental dan Ahlak, adalah panti di sebuah wilayah Yogyakarta Selatan, di dekat pantai, di pimpin oleh seorang Ustadz. Di pondok panti rehabilitasi itu para santri pasien dibina dan diterapi . Kasusnya bermacam-macam. Narkoba maupun kenakalan remaja dan……yang spesial adalah menangani korban pemurtadan, atau orang-orang yang bermasalah dalam keluarga, termasuk di dalamnya pemurtadan.
ALHADID  nama pesantren itu. Pondok Alhadid 2 adalah bagian dari Pesantren Alhadid untuk Program Rehabilitasi. Aku dipanggil Ustadz Yusuf, pimpinan pesantren Alhadid. Beliau mulai memberi tugas padaku, santri baru penanganan pemurtadan, begitu katanya. Sore itu juga Ayu di tinggalkan di Al-Hadid. Dia sudah tidak berontak karena menyadari ketidakmungkinannya berontak. Malam itu Ayu diperkenalkan Ustadz Yusuf padaku, dia memanggilku dengan panggilan “ Bunda” .  Ayu dimasukkan  di sebuah kamar di panti rehabilitasi itu, aku ditunjuk untuk menjadi pembinanya, mungkin lebih cocok disebut “ pengasuh” untuk menangani kasus ini.  Setelah Ibunya Ayu dan pamannya berpamitan pada Ustadz Yusuf,   aku masuk ke kamar tadi setelah ayu ada di dalamnya .
Ayu tertunduk sedih, aku tak berani  mengusiknya . Kumulai menyapanya dengan ucapan  :
“ Assalamualaikum, Cah Ayu”  Ayu tak menjawab. Dia duduk di tepi ranjang sambil memegang guling  dan diletakkan di pangkuannya. Tiba-tiba ia melemparkan guling itu ke lantai tanda melampiaskan kemarahannya. Dia menangis sejadi-jadinya sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Kubiarkan dia melampiaskan rasa marah dan kecewanya,  kutunggu sampai tangisnya mereda. Setelah beberapa lama tangispun mereda, perlahan kuhampiri dan kuusap kepalanya sambil kutanya dan minta izin :
“ Boleh bunda duduk di sini? “  Dia  mengangguk
“ Ceritakanlah apa yang terjadi, anak manis ! “  Malah tangisnya semakin menjadi .
“ Yo wis, menangislah kalau belum mau cerita ,  bunda menemani di sini “
Malam itu aku tak berhasil membujuknya untuk berceritera. Tidak juga untuk menyarankannya mandi dan mengajaknya solat berjamaah. Ayu mematung untuk beberapa lama .  Aku yang sewktu waktu   membutuhkan ke luar kamar, terpaksa memegang kunci kamar. Malam itu Ayu tak ada aktivitas yang berarti , tidak mandi, tidak solat, tidak makan, juga tidak memejamkan mata sekejappun. Ayu duduk mematung di tepi ranjang . Rambut acak-acakan, tapi Nampak gadis itu cantik, putih, imut dan lucu. Sampai besoknya belum juga mau bicara , besoknya lagi juga belum mau, Ayu benar-benar seperti gadis kehilangan ingatan, aku sedih dan prihatin melihatnya,  aku merasakan kepedihan yang Ayu rasakan. Aku berusaha terus membujuknya. Sampai di hari ketiga :
“ Ayu………, makan ya….., nanti kamu sakit kalau ga makan”
“ Aku ga mau makan Bund, biarkan aku sakit……dan……… mati , aku pengen mati “,  teriaknya lagi. Pecah lagi tangisnya tak terbendung. Aku kebingungan. Kubiarkan Ayu meraung-raung, kutinggalkan dia  sendirian di kamar , aku ke kamar mandi dan berwudhu berniat untuk solat Isya.      Tiba-tiba terdengar ada yang membuka pintu pagar, aku kaget, tergopoh-gopoh keluar dan memeriksa apa yang terjadi. Masya Allah…..pintu kamar ayu sudah terbuka , pintu ruang tamu terbuka dan pintu pagarpun terbuka juga , tapi sekelilingnya gelap, aku panik. Ayu berusaha ke luar rumah, Ayu mencoba minggat. Aku segera menghampiri Pos Satpam dan bilang bahwa Ayu kabur.  Paniklah seisi panti, meski pasien saat itu hanya  tiga orang. Pak Satpam mengejar Ayu.” Ah Ayu….Ayu ….Ayu…..bangunan ini dibenteng sekelilingnya, pagarnya tinggi, dan gelap.   Ayu balik sini nak, bunda ikut ” . Teriakanku berusaha untuk menghadang Ayu. Ayu dihadang Pa Tasmin, Satpam  yang jaga malam itu. Alhamdulillah. Pak Tasmin berhasil  menghadangnya , Ayu meronta-ronta minta dilepaskan. Berkat kesigapan Pa Tasmin, Ayu dapat diselamatkan. Upaya minggatnya digagalkan oleh Pa Tasmin, Satpam yang selalu setia menjaga santri panti.   Keesokan harinya Ayu tampak menyerah , tak ada aktivitas untuk upaya kabur. Aku mencoba meraihnya lagi, membujuk Ayu supaya mau berceritera  tentang masalah yang sedang dihadapinya.
“ Bund, sekarang tanggal berapa”
“ Tanggal 22 April ”
“ Jadi sepuluh hari lagi tanggal 1 Mei ya Bun? “
“ Iya, ada apa dengan tanggal 1 Mei ? “
“ Resepsi pernikahan kami “
“ Ooh…, jadi Ayu sudah mau married ? “
Inilah awal perbincangan yang membukakan hati Ayu mulai mau berceritera tentang rencana tanggal I Mei, tapi sebentar-sebentar bertanya : “ Aku boleh pulang ya Bund ? ”   . Aku berusaha mengikuti alur pikirannya, dengan harapan agar dia tersadar dengan apa yang sedang menimpanya.
“ Boleh pulang, tapi Ayu harus sehat dulu. Ayu harus mau mandi, solat, dan mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin”
“ Aku mau solat Bund….., temani aku wudhu, bimbing lagi aku bacaan solat ”
Aku mengikuti permintaan Ayu . Alhamdulillah sedikit demi sedikit ia mau mulai cerita disela-sela isak tangisnya .  Ketika bacaan solat sampai pada bacaan alfatihah , isaknya semakin kerap, tetapi ia tak membatalkan solatnya sampai salam. Selesai salam iapun sujud lagi dan menangis lagi. Begitu setiap hari berulang-ulang. Semakin hari tangisnya semakin berkurang. Ayu  sudah mulai mau makan . Solatnya semakin sering disamping kegiatan lainnya. Mandi, makan, minum dan berbincang-bincang.  Sekedar mengikuti alur pikirnya akupun berceritera tentang hampir saja aku menjadi korban pemurtadan. Maka suatu hari terjadilah dialog antara aku dan Ayu. Dialog dua arah. Menandakan anak asuhanku sudah sehat. Alhamdulillah. Ternyata orang patah hati itu suli-sulit gampang untuk disembuhka. Entahlah, apakah pendapatku itu salah atau benar, karena aku sendiri pernah mengalami hal yang sama , katakanlah hal yang hampir sama, masalah sekitar perbedaan keyakinan yang dihampri rasa cinta. Rasa cinta antar manusia lain jenis. 
“ Jadi bunda butuh berapa tahun untuk melupakannya? “
“ Lama ……, lama sekali , hampir tak pernah bisa melupakannya” “ Kenapa Bund?.....kalau gitu, Bunda patah hati ya? “
  enggak juga ….., sayanglah,   cuma punya hati  satu kok dipatah-patahin ”  candaku sambil meliriknya. Ayu terlihat menunduk tapi tersenyum. Pipinya merona, tandanya sudah merasakan sesuatu ”.  Kami terkekeh,  kurangkul Ayu sambil kuucapkan : “ Kita tidak perlu patah hati ya? Kita punya cerita yang sama….., kita harus bahagia dengan cerita yang sama”  Ayu mengangguk ia tersenyum dan bilang : “ Iya Bund….., aku berjnji, toh Bunda juga bisa bahagia meski tak jadi menikah dengan dia, meskipun bunda tak bisa melupakannya ”  
“ Jadi bunda butuh berapa lama untuk bisa melupakannya ”  Kembali pertanyaan itu di ulangnya.
“ Tiga puluh tahun, bahkan sampai sekarang belum bisa melupakannya”
“ Tiga puluh tahun ? ” Tanyanya lagi.
“ Tak apa-apa tak bisa melupakannya pun, tetapi kita sudah berusaha, dan tetap menjalankan kehidupan sesuai iman kita, kita kan punya Allah, punya yang Maha Mencintai “  
Banyak lagi obrolan dengan Ayu yang menggiring Ayu kepada kesehatan mentalnya. Ini bukan karena aku bisa membimbingnya, saya yakin ini karena Allah mendengar do’a kami semua yang membimbing Ayu, terutama do’a ibnya Ayu, yang pasti do’a orang tua Ayu.
Kondisi ayu semakin membaik. Aku melayaninya dengan penuh kasih sayang yang tulus, sepenuh hati karena akupun merasakan rasa sakit  seperti yang di alaminya. Sejak obrolan kami saat itu, Ayu nampak berusaha keras untuk menyembuhkan hatinya, melupakan kenangannya , dan membangun kembali harapannya . Aku sungguh-sungguh menyayangi Ayu  seperti sayang pada anakku sendiri, meski pada kenyataannya aku hanya punya satu putra dan itupun hubungan kami bermasalah. Aku jatuh cinta pada Ayu. Cinta seorang ibu pada anak , tentunya, bukan cinta selain itu. Hemh….aku seperti merasa punya anak yang baru berjumpa di saat anakku remaja.  Surprise dan sangat menyenangkan. Tugasku ternyata tidak sebatas  hanya di panti saja, Ayu memintaku menemaninya dalam kurun waktu yang agak lama, di rumahnya.  Aku akhirnya berkesempatan bertemu lagi dengan ibunya Ayu dan keluarga besarnya, Alhamdulillah terjalin silaturahmi yang membuatku bahagia, menyebabkan kami semua bahagia. Setelah kesehatan Ayu dinyatakan sehat sempurna, sehat lahir batin, maka aku mengantar Ayu pulang ke rumahnya, keluarga besar Ayu menyambut kedatangan kami dengan penuh rasa syukur. Kini Ayu sudah ceria seperti sedia kala.   Maka terjalinlah silaturahmi dengan keluarga besar Ayu. Setelah Ayu tegar dan sehat lahir bati, mental maupun fisiknya, aku diizinkan pulang ke Bandung.
Suatu saat dia meneleponku, suaranya menandakan sukacita, dengan riang dia bercerita
“ Bunda……betul kata Bunda, kalau Allah berkehendak ….., dalam sekejap , rasa itu akan berubah, aku tak perlu menunggu tiga puluh tahun, kalau Allah berkehendak , setelah upaya dan do’a hanya beberapa hari saja setelah upaya dan do’a itu, Allah mempertemukan aku dengan teman lamaku sewaktu di SMA yang dulu kami sama-sama suka. Ternyata orang tuanya adalah sahabat Ibu dan Bapakku. Ternyata aku tak perlu menungugu tiga puluh tahun untuk kesembuhan hatiku, Insya Aallah aku sudah sembuh Bunda….., Insya  kami akan merencanakan kebahagiaan itu dengan orang yang dihantarkan Allah setelah aku berobat, mohon ampunan atas kekeliruanku. Allah memang hebat, Maha Hebat, ternyata Allah punya scenario yang terindah untuk setiap hambaNya”   Tutur Ayu ditelpon, menirukan kalimatku ketika di panti beberapa waktu yang lalu.
            Kututup perbincanganku dengan Ayu di telpon dengan rasa syukur tak terhingga karena kami sudah diberi pembelajaran yang sangat berarti. Diingatkan kembali pada pengalaman pertarungan jiwa pada diriku sendiri. Pembelajaran untuk menguatkan hati, fikir dan iman dengan penguatan aqidah yang harus terus menerus ditingkatkan. Perjuangan menapaki jalan lurus Nya memang tidak mudah dan tidak boleh berhenti …….sampai mati.
Kisah ini kutulis kembali lima tahun setelah peristiwa Ayu, di panti rehabilitasi Iman di Pesantren Al-Hadid Gunungkidul Yogyakarta.  Kutulis kembali sekedar untuk imunisasi hati disaat aku terkenang lagi kisah yang menimpaku tiga puluh lima tahu yang lalu. Betapa ringkihnya hati, tetapi betapa Maha Kuasanya Allah untuk merubah hati seseorang dengan mudah, dibolak balikan dalam sekejap. Alhamdulillah Allah SWT telah menyelamatkan Ayu dari pemurtadan, begitu juga hatiku, semoga akupun turut terrehabilitasi dari rasa terpuruknya.  Subhanallah.
Melalui Ayu, gadis cantik dan cerdas itu Allah menunjukkan kebesaran Nya pada kami. Jadi…..akupun harus segera bangkit dan sembuh dari rasa keterpurukan ini. Allah Maha Rahman, Maha Rahim. Bayang-bayang kelabu sudah    berlalu……

Sukabumi, 18 Mei 2018.  
Kutulis kembali
Di bulan suci Romadhan 1439 H.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar